Indonesiaku, Life

Kenapa Perantau Minang Jarang Mudik?

Saya tergelitik mengomentari twit dari @minangsedunia yang mengajak followernya untuk ikut pulang bersama atau pulang basamo menjelang lebaran nanti.

Saya tercenung membaca twit itu karena saya sendiri sudah lebih 5 tahun tidak mudik atau pulang kampung.

Ada beberapa alasan kenapa saya cukup lama tidak pulang kampung, padahal anak-anak saya perlu juga tahu di mana kampung halamannya.

Salah satunya adalah karena sanak keluarga di kampung sudah sedikit. Mungkin hanya 25 persen keluarga saya di kampung, sisanya merantau semua. Sebagian besar ke Jakarta. Sebagian lagi di Bandung, Jambi dan Malaysia. Yang di Malaysia bahkan sudah menjadi warga negara sana.

Jadi, kalau pulang kampung, ibu saya suka mengingatkan, kamu nanti akan sedih di sana karena mendapati rumah-rumah yang kosong melompong.

Di kampung saya banyak sekali rumah yang kosong, bahkan banyak perantau yang menggaji orang untuk menunggui rumahnya dan menggarap sawah mereka.

Jika pulang kampung, saya pun akan repot membersihkan rumah yang sudah kotor karena kosong bertahun-tahun. Belum lagi bagaimana untuk urusan makannya.

Berbeda dengan bepergian ke wilayah lain yang tinggal cek in di hotel dan semuanya tersedia untuk kita.

Pulang kampung menjadi rumit.

Sebagian perantau bahkan sekarang sudah tidak lagi menginap di rumah mereka, tapi di hotel-hotel di Bukittinggi untuk kepraktisannya.

Beberapa alasan kenapa orang Minang jarang pulang kampung, menurut pengamatan saya:

1. Alasan ekonomi. Bagi perantau yang ekonominya belum mapan, pulang kampung itu adalah pemborosan. Orang tua mereka malah melarang untuk pulang kampung. Lebih baik uang yang didapat itu digunakan untuk yang lebih produktif seperti menambah modal usaha, membeli toko/ruko dan sebagainya.

2. Alasan jarak. Wilayah rantau mencakup seluruh Indonesia bahkan manca negara. Tentu tidak mudah bagi mereka yang jauh untuk pulang kampung. Kenyataannya, jarak yang dekat memungkinkan mereka pulang lebih sering seperti dari Pekanbaru, Medan atau Jambi. Dengan relatif murahnya tiket pesawat saat ini, tentu alasan jarak tidak terlalu relevan lagi saat ini bagi yang merantau di pulau Jawa, terutama.

3. Alasan adat dan sosial. Ada juga yang berat untuk pulang karena alasan adat. Meski pun jarang, tapi memang ada yang seperti ini. Misalnya beda pendapat soal adat atau sengketa sosial dengan keluarga besarnya. Banyak tokoh besar asal Minang yang akhirnya memutuskan hengkang dari kampungnya dan menetap di rantau. Contohnya Khatib Alminangkabawi yang menjadi imam besar di Mekah setelah meninggalkan kampung halaman karena sengketa yang tiada putus dengan kaum adat. Beliau adalah guru dari KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU.

4. Filosofi di mana bumi diinjak di sana langit dijunjung. Artinya, rantau itu sudah menjadi kampung kedua bagi mereka. Mereka menyatu dengan masyarakat di rantau, menikah dengan orang setempat, punya usaha yang besar di rantau atau bahkan menjadi pejabat mulai dari militer sampai birokrat. Mereka sudah menyatu dengan adat kebiasaan setempat dan menganggapnya sebagai kampungnya sendiri. Salah satu orang kampung saya bahkan ada yang jadi bupati di Bantul.

Beberapa hari ini saya mendiskusikan keinginan untuk pulang dengan ibunda. Seperti biasa, ibunda berpendapat semua terserah saya. Apakah tidak sedih jika di kampung nanti mendapati rumah yang kosong melompong? Siapa nanti yang akan membantu menyiapkan sarapan?

Perlu kesiapan mental yang kuat bagi saya untuk pulang kampung.

Ya sudah, kalau begitu habis lebaran saya jalan-jalan ke Bangkok aja deh dengan teman-teman TDA @tradeveler. Negeri orang lebih mudah ditempuh dibanding negeri sendiri.

NB: Keempat alasan itu adalah murni hasil pengamatan saya yang terbatas. Mohon maaf bila ada pembaca yang merasa itu kurang tepat.

NB 2: Tidak lama setelah menulis postingan ini saya berbincang dengan seorang kerabat yang usianya 55 tahunan. Selama puluhan tahun merantau ia rata-rata mudik 15 tahun sekali.

Standar

9 thoughts on “Kenapa Perantau Minang Jarang Mudik?

  1. firm8685@yahoo.co.id berkata:

    Asslm. Pak roni. Sy firman sy kmrn ikut milist tda trnyata di banned. Gara-gara istri sy iklan slh satu produk mlm disitu. Tanpa sepengetahuan saya. Bagaimana sy klu ingin kmbali aktif di milist tda.

    Ahmad firmansyah
    yang lagi belajar menjadi tangan diatas

    Powered by Telkomsel BlackBerry®

    Suka

  2. Arfan caniago berkata:

    Kalau sy amati orang minang dominan wilayah rantaunya sumatera dan p.jawa sangat berbeda dengan orang bugis yang berada hampir diseluruh indonesia bahkan sampai wilayah perbatasan dengan skala usaha menengah sampai industri…

    Suka

    • Dubalang Koto berkata:

      Saya rasa pendapat anda tidak tepat. Orang Bugis dominan wilayah rantaunya di timur Indonesia, tapi juga ada sedikit di wilayah barat. Terbalik dengan Minang yang dominan wilayah rantaunya di barat Indonesia, tapi juga ada sedikit di wilayah timur. Tks.

      Suka

  3. Bener da.. Lebaran ini kami “mudik” ke bukittinggi.. Hari pertama pulang, terpaksa beres2 rumah, kuras bak mandi dll karena debu lama ditinggal.. Mau makan susah karena peralatan dapur entah disimpan dimana, terpaksa tiap makan beli di warung.. Kapok pulang kampung :))

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s