Indonesiaku

Indonesia, Lupakan Saja Sepakbola

Menyikapi prestasi sepakbola Indonesia yang terus memprihatinkan, apalagi setelah tadi malam dipermalukan lagi oleh Chelsea dengan 8 – 1, saya punya pemikiran yang rada nyeleneh tapi masuk akal.

Menurut saya, Indonesia tidak usah main sepakbola, tapi cukup fokus ke beberapa cabang olah raga berprestasi saja.

Dalam dunia branding, fokus, positioning dan diferensiasi itu penting supaya brand Indonesia itu menancap kuat di benak orang banyak.

Brazil dikenal dengan kampiun sepakbola.

China jagoan di olah raga senam.

Pakistan sulit dicari lawan dalam olah raga cricket.

Rusia dikenal banyak menelurkan pecatur dunia.

Negara Afrika tertentu (saya lupa) sulit ditaklukkan dalam lari marathon.

Nah, Indonesia mau dikenal sebagai kampiun di olah raga apa?

Misalnya, Indonesia memutuskan untuk fokus di bulu tangkis. Ya, fokus di situ aja sampai tak terkalahkan dan lupakan yang lain dulu. Semua budget, energi, pikiran, effort difokuskan ke bulutangkis saja. Saya yakin All England, Thomas Uber, Piala Sudirman akan jadi langganan kita.

Dalam dunia bisnis, Jack Welch selalu berprinsip akan menjalankan bisnis yang kemungkinannya besar jadi nomor satu di dunia dan menyuntik mati bisnis-bisnis GE yang mediocre. Prinsip ini juga diikuti oleh Pak Teddy P. Rachmat.

Waktu kuliah saya punya teman yang lulus cum laude. Strateginya, setiap awal kuliah ia selalu bertanya kepada dosen apakah ia mudah memberikan nilai A atau tidak. Kalau dia pelit memberi nilai A, teman ini akan mundur dari kelas itu dan mencari dosen lain yang sesuai dengan targetnya. Strategi teman ini berhasil gemilang.

Lupakan dulu prestasi di sepakbola yang tak kunjung tiba. Segala sumber daya untuk sepakbola dialihkan ke bulu tangkis.

Secara alami, Indonesia bukan negeri pemain sepakbola. Pemain-pemain hebat rata-rata lahir dari negara yang postur tubuhnya tinggi-tinggi dan kekar.

Indonesia cocok dengan olah raga yang butuh kelincahan dan kegesitan seperti bulu tangkis.

Pertanyaannya, sepakbola sudah kadung jadi favorit penonton Indonesia. Ya, boleh diteruskan, kita tetap fokus jadi penonton saja. Kita tetap undang Chelsea, Liverpool atau bahkan Barcelona dan MU. Tapi bukan lawan Timnas Indonesia. Undang saja Chelse vs Barcelona di GBK, misalnya. Penonton pasti membludak dan uang pasti masuk dengan masif ke kantong penyelenggara.

Masuk akal?

Standar

7 thoughts on “Indonesia, Lupakan Saja Sepakbola

  1. hmmm.. dulu jepang juga ga dikenal sbg negeri sepakbola pak.. jd bulan2an di asia… tp skrg jd macan asia, di badminton jg maju.. olahraga2 lain jg maju..

    Suka

  2. adfa berkata:

    DIsini mafia kompetisi bola sudah terlalu besar, jadi mengharapkan untuk membenahi dari dasar akan terlalu sulit.

    saya setuju dengan pak rony, kita benahi atau fokus ke 1 bidang olahraga saja. Apalagi bulu tangkis akar sejarah kita kuat disitu..

    Semangat Indonesia

    Suka

  3. Sepakat dengan tulisannya pak Roni,,,,fokus di satu kekuatan agar dikenal duluan dan berjaya di satu lini tersebut.
    masalahnya memang kita pernah juga lho pak roni di sepak bola kita sangat jago.
    kuncinya menurut kami mentalitas dibangun tidak serba instan, sehingga pembinaas dasar dan berkelanjutan terbangun detail.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s