Uncategorized

Indonesia Berdaya dan Kebijakan Lokal

Minggu lalu saya dan 40-an pegiat sosial, motivator, entrepreneur, inspirator me-launching gerakan Indonesia Berdaya. Silakan lihat webnya di http://www.indonesiaberdaya.com.

Gerakan ini adalah salah satu wujud kepedulian terhadap bangsa yang di tengah pertumbuhannya mengalami “ancaman” dari asing terhadap penguasaan aset-aset ekonominya.

Kita sama-sama tahu lah, banyak aset kita dikuasai asing. Salah satunya adalah tanah kita banyak yang dijual ke asing.

Jadi, gerakan ini berusaha untuk membeli kembali tanah-tanah itu dan mengelolanya dengan produktif dan hasilnya untuk kesejahteraan penduduk lokal, seperti anak yatim dan fakir miskin.

Saya mendapat info, di Sumatera saja banyak sekali tanah yang lepas ke tangan asing untuk pertambangan, properti, sawit dan sebagainya.

Salah seorang staf dari Dompet Dhuafa memaparkannya kepada kami betapa banyak tanah di Sumsel, Jambi, Riau, dan Lampung banyak yang dikuasai asing.

Karena saya berasal dari Sumbar, saya tanyakan bagaimana kondisi di sana? Tidak begitu parah, jawabnya.

Saya meyakini hal ini disebabkan karena adanya aturan adat atau kebijakan lokal yang melarang memperjualbelikan tanah.

Tanah di Sumbar mayoritas adalah tanah pusaka yang diwariskan turun-temurun untuk diambil manfaatnya oleh anak cucu untuk membangun rumah dan bertani/berkebun.

Tanah-tanah tersebut tidak boleh dijual. Kalau pun dijual harus seizin datuk selaku pimpinan keluarga besar dan disepakati oleh seluruh keluarga besar itu. Betapa rumit dan sulitnya proses itu yang menyebabkan investor atau calon pembeli tanah mundur duluan sebelum melangkah.

Banyak kasus investor yang sudah membangun di atas tanah jadi terhenti karena salah satu dari keluarga besar itu protes dan akhirnya membatalkan jual beli tanah itu.

Di kampung saya sendiri, kemarin Wali Nagari (Lurah) melaporkan bahwa tidak ada tanah di Nagari (desa) itu yang dijual. Alhamdulillah.

Aturan adat di Sumbar ini menarik dan perlu jadi contoh bagaimana tanah itu supaya tidak lepas kepada orang asing. Saya tidak tahu di daerah lain apakah ada aturan adat seperti ini. Kabarnya di Bali juga ada.

Dengan demikian rakyat tidak berani dengan mudah melepas tanahnya dengan begitu murah kepada asing dan akhirnya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri.

Selain membeli tanah-tanah yang sudah terlanjur lepas di seluruh Indonesia, gerakan ini seyogyanya juga bisa mencegah agar rakyat tidak dengan mudah menjual tanah mereka. Gerakan ini perlu dilengkapi dengan upaya proaktif dengan memberi edukasi dan pemberdayaan untuk mencegah rakyat dengan mudah menjual tanah kepada orang asing.

Standar

3 thoughts on “Indonesia Berdaya dan Kebijakan Lokal

  1. alviancp berkata:

    Tanah itu adl kebutuhan yg plg berbeda karakteristik nya dgn 3 teman lainnya. Kita kenal sandsng pangan papan, utk sandang pangan kalo habis bisa buat lagi kalo gaa da kFC / zara bisa ambil warteg dan pasar grosiran tapi tanah y barang nya itu2 aja makanya nilainya selalu naik n diperebutkan dr dulu sampes skrg. Merupakan pilihan yg tepat utk gerakan dompet dhuafa mengambil alih tanah agar tdk dimonopoli n digunakan sebaik2nya.. Smga gerakan ini bs jd role model dan kebangkitan harapan utk indonesia. – alvian TDA jakarta
    Salam kenal mas roni.

    Suka

  2. Adat istiadat Sumatra Barat memang menarik, mudah-mudahan berkah bagi kemajuan dan kebermanfaatan. Tetapi, kita selalu tergerak dengan kata ‘asing’. Bahwa, banyak orang Sumatra beli tanah di Betawi, dan akhirnya orang Betawi banyak yang menganggur, tentu bukan semata-mata menyalahkan kepenguasaan orang pendatang kan.

    Hanya sedikit merenung, mudah-mudahan kita termasuk golongan yang memberdayakan. Aamiin. Sukses tuk Indonesia Berdaya!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s