Uncategorized

Kedigdayaan Merek Lokal di Sumatera Barat

Setelah sekian tahun akhirnya saya menjejakkan kaki kembali di Ranah Minang, Sumatera Barat.

Kota Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, Solok, Sawahlunto adalah beberapa kota yang saya kunjungi.

Dibandingkan kota lain di Sumatera seperti Pekanbaru, Palembang dan Medan, kota-kota di Sumbar terlihat kalah pembangunannya.

Di sini belum ada jaringan hotel nasional dan internasional seperti di kota-kota lain. Yang ada hanya hotel-hotel milik pengusaha lokal yang terkesan “culun” dan tidak keren dibandingkan merek-merek hotel ternama itu.

Pun demikian dengan restoran-restorannya. Hanya segelintir terlihat jaringan restoran internasional dan nasional seperti KFC, Pizza Hut, Bakso Lapangan Tembak dan CFC. Selebihnya dikepung oleh restoran-restoran kecil milik pengusaha lokal. Lidah orang Minang memang sulit mengakomodasi rasa yang “asing”.

Obyek wisata di Sumbar tidak kalah dibandingkan Bali, Jawa Barat atau Lombok. Bahkan daerah Puncak Lawang dengan pemandangan hamparan Danau Maninjau bisa saya sebut satu di antara yang terbaik di Indonesia. Tapi minim sekali hotel internasional yang berinvestasi di sini. Beda dengan di Lombok, misalnya. Lahan-lahan dengan view bagus sudah dikapling oleh pengusaha-pengusaha luar.

Menurut supir mobil rental yang mengantarkan saya, bukannya investor tidak tertarik. Banyak sekali yang tertarik untuk berinvestasi di bidang pariwisata di Sumbar. Kendalanya adalah sulitnya membeli tanah di sini karena tanah-tanah mayoritas dikuasai oleh adat sebagai harta pusaka yang tidak boleh diperjualbelikan.

Inilah yang membuat calon investor berpikir seribu kali untuk berinvestasi di pariwisata Sumbar. Belum lagi aturan sosial yang ketat soal pergaulan dan perilaku sosial, misalnya soal minuman keras dan sebagainya.

Kondisi ini membuat ekonomi Sumbar hanya dikuasai oleh pengusaha lokal. Pilihan selera masyarakat menjadi terbatas dengan restoran-restoran milik pengusaha lokal saja. Hotel-hotel pun demikian. Hanya disediakan oleh pengusaha-pengusaha lokal dengan manajemen seadanya.

Poin bagusnya, ekonomi daerah ini dikuasai oleh penduduk lokal. Uang berputar di lokal. Hanya sedikit devisa yang lari keluar. Pengusaha lokal menjadi raja di negerinya sendiri.

Kelemahannya, investasi dari luar menjadi sangat terbatas sehingga perkembangan ekonomi jadi lambat.

Saya teringat dengan strategi “localization-nya” Mas @yuswohady di buku Beat The Giant. Semangat pengusaha lokal seperti inilah yang diperlukan untuk melawan serbuan asing yang akan “menjajah” ekonomi kita.

Para “giant” itu akan kesulitan menghadapi kepungan merek-merek lokal di daerah karena mereka pengusaha lokal ulet, lincah dan smart. Diperkuat lagi dengan dukungan masyarakatnya yang fanatik membeli produk lokal yang akhirnya memperkuat pengusaha UMKM lokal.

Standar

2 thoughts on “Kedigdayaan Merek Lokal di Sumatera Barat

  1. Saya malah suka yg seperti itu. Bahkan penguasa hipermarket dan minimarket skala nasional (alf*m*rt & ind*mar*t) tidak bisa mengepakkan sayapnya di Sumbar. Pengusaha lokal jd lbh punya kesempatan utk maju.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s