Indonesiaku

Mengatasi Kemacetan ala Guangzhou

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman TDA @tradeveler berkunjung ke Cina, tepatnya di Guangzhou dan Shenzhen.

Kami sudah mengetahui kedigdayaan ekonomi Cina, namun masih penasaran kalau belum menyaksikannya langsung.

Saya pernah baca, bahwa untuk mengetahui hal-hal besar bisa diketahui dari aspek-aspek kecilnya. Misalnya, sebuah perusahaan bagus atau tidak bisa diketahui dari kualitas dan kebersihan toiletnya atau dari sikap satpamnya. Dari hal-hal kecil yang sederhana itu biasanya akan tergambar bagaimana keseluruhannya.

Untuk negara atau kota, kita bisa menilainya dari hal kecil dan sederhana, misalnya dari kondisi lalu lintasnya. Dari kondisi jalan itu akan tergambar bagaimana negara atau kota itu secara keseluruhan.

Terus terang saya terkejut dengan kondisi lalu lintas di sana. Bedanya bumi dan langit dengan Jakarta yang juga metropolitan dengan jumlah penduduk relatif sama.

Di jalan-jalan raya tak pernah saya temukan kemacetan. Jalanan tampak lengang dan hanya dilalui oleh mayoritas bus-bus umum, taksi dan segelintir mobil pribadi. Selebihnya adalah sejenis ojek dengan motor listrik dan sepeda. Sepeda banyak sekali lalu lalang. Motor seperti di Jakarta dilarang masuk kota. Ini kebijakan walikotanya.

Jalanan juga relatif lengah dari manusia. Tak terlihat orang lalu lalang di trotoar atau menyeberang jalanan. Nyaris seperti kota-kota di Eropa yang memang sedikit penduduknya.

Ke mana perginya penduduk yang belasan juta itu perginya?

Jawaban itu saya dapati setelah masuk ke stasiun MRT bawah tanah atau istilah di sana, Metro. Di sana saya menyaksikan umat manusia yang banyaknya bagai semut. Lalu-lalang ke sana kemari dengan berjalan cepat, dari satu stasiun-ke stasiun lain, ke luar masuk pintu kereta.

Kereta-kereta itu menghubungkan satu titik ke titik tujuan lainnya dengan begitu cepat. Tak ada istilah terlambat untuk meeting lantaran terjebak macet di kota ini. Luar biasa. Saya, orang Jakarta sangat iri dengan kemewahan seperti ini.

Di sini saya mendapati kebenaran ungkapan bahwa pemimpin yang baik adalah yang mengambil keputusan berdasarkan benar dan salah, bukan untung rugi. Jika demi kenyamanan publik solusinya adalah mengurangi motor dan mobil, maka ia harus melakukan itu tanpa menghitung untung rugi jabatan atau popularitasnya, apalagi lobi-lobi dari korporasi besar.

Jakarta membutuhkan pemimpin yang memutuskan hal-hal yang benar walau pahit, bukan karena untung rugi bagi diri atau kelompoknya.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s