Books and Learning, Indonesiaku

Guru, Namamu Akan Selalu Hidup Dalam Sanubariku

Lirik lagu itu berulang kali terdengar dari sekolah SMK tepat di depan rumah. Sebuah twit juga mengingatkan saya bahwa hari ini saatnya mengenang jasa para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Sejenak pikiran saya melayang mengenang para guru yang telah berjasa membentuk saya seperti sekarang ini.

Sejak SD saya termasuk murid yang berprestasi dan selalu juara kelas. Makanya, saya selalu dekat dan dapat perhatian khusus dari setiap wali kelas saya. Saya selalu menjadi ketua kelas, diberi nasehat khusus yang tidak didapat oleh murid-murid lain seperti buku apa selain buku pelajaran yang harus dibaca. Saya juga dapat priviledge selalu menjadi komandan upacara bendera, dikirim menjadi wakil sekolah untuk lomba cerdas cermat dan pidato. Bahkan sering menjadi “wakil guru” saat tidak hadir, menggantikannya menuliskan mata pelajaran di papan tulis.

Setelah melewati belasan tahun bersekolah, prestasi saya naik turun dan bahkan pernah turun sekali. Saya berkesimpulan, naik turunnya prestasi saya ada faktor karena kedekatan dan perhatian guru kepada saya. Semakin dekat, semakin bagus prestasi saya. Jika saya suka dan nyaman dengan guru itu, maka saya semangat belajar dan prestasi pun mengikutinya. Demikian pula sebaliknya.

Saya jadi paham, bila ada anak yang sulit belajar atau jadi anak yang nakal, semua itu bisa diatasi sebetulnya dengan kedekatan dengan mereka. Apalagi di sekolah negeri, murid kelasnya berjumlah besar, sehingga sulit untuk dapat perhatian yang cukup, seorang murid harus pintar atau nakal sekalian untuk dapat perhatian. Bagi yang prestasinya rata-rata atau medioker, biasanya luput dari perhatian.

Sebagian guru saya termasuk hebat dan saya sukai. Sampai sekarang saya masih teringat dengan mereka, terutama yang meninggalkan memori positif di benak saya. Ada juga guru yang meninggalkan memori negatif di benak saya karena menuliskan angka memalukan di ijazah saya😦

Saya bersyukur dapat mengarungi kehidupan ini dengan bekal dari mereka, pahit atau pun manis. Namun, boleh dong saya iri dengan Ikal dan kawan-kawannya di Belitong sana yang punya guru sekualitas Bu Muslimah dan satu lagi guru bahasa Indonesia (saya lupa namanya) yang mengajarkan mereka bermimpi setinggi langit.

Guru bahasa Indonesia itu berhasil membongkar pikiran anak-anak miskin itu untuk mampu bermimpi di luar batas realitas mereka. Bermimpi bersekolah di Sorbonne, Perancis (filmnya segera tayang, judulnya Edensor).

Guru seperti itu adalah para transformer, yang mengubah cara berpikir anak-anak dan menantang mereka untuk berpikir di luar realitasnya, memaksa mereka menjalani hidup dalam impian dan akhirnya mentransformasi kehidupan mereka menjadi manusia yang baru.

Terima kasih guru. Engkaulah cahaya pelita dalam kegelapanku. Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.

Guru, namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.

Standar

One thought on “Guru, Namamu Akan Selalu Hidup Dalam Sanubariku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s