Life, Minimalism, Simplicity

ReSOULusi Sederhana, Mulai dari Rumah

Kebutuhan akan space (ruangan) di rumah selalu bertambah. Seiring dengan bertambahnya barang-barang di rumah. Mulai dari buku, majalah, pakaian, gadget dan kabel-kabelnya. Itu baru bagian saya. Belum lagi bagiannya istri dan anak-anak.

Beberapa tahun lalu, saya selalu berpikir untuk menambah ruangan, menambah rak atau lemari, seiring dengan bertambahnya barang koleksi saya. Bayangkan, koleksi buku saya sampai menjajah lemari dapur.

Sekarang saya tidak butuh tambahan ruangan atau lemari lagi. Apalagi setelah belajar dan mempraktekkan gaya hidup minimalis.

Salah satu caranya adalah, tinggalkan yang penting saja dan singkirkan sisanya. Saya juga menggunakan metode “garbage in garbage out”, artinya barang yang masuk harus seimbang dengan barang yang keluar. Misalnya, saya beli 2 baju, harus diimbangi dengan mengeluarkan 2 baju dari lemari untuk disumbangkan atau diberikan kepada orang lain. Biar tidak terjadi penumpukan.

Awal tahun 2013 saya bertekad untuk tidak lagi membeli buku, koran atau majalah cetakan dan pindah semuanya ke digital. Alhamdulillah, target itu tercapai kira-kira 90 persenan. Sekarang relatif tidak ada lagi tumpukan buku, majalah atau koran di rumah. Rumah saya menjadi “clutter free”.

Resolusi tahunan saya tidak muluk-muluk. Menciptakan rumah yang nyaman dan bebas tumpukan barang adalah hal sederhana, tapi dampaknya saya rasakan tidak sederhana. Rumah jadi bersih, ringan dan lapang. Mudah-mudahan hidup juga demikian.

Standar

5 thoughts on “ReSOULusi Sederhana, Mulai dari Rumah

  1. Terima kasih pak Roni atas tulisan sederhana yang memberi inspirasi yang tidak sederhana …

    Gaya hidup minimalis, “tinggalkan yang penting saja dan singkirkan sisanya.”, “garbage in garbage out” … Tantangan di masa sekarang di mana kita terlalu mudah ‘melekat’ pada suatu hal dan susah untuk ‘let it go’ dan menerima dengan ikhlas. Sehingga rentan mengalami penderitaan.

    Cara yang lain untuk bergaya hidup minimalis adalah berlatih mindfulness, melatih diri kita supaya tidak mudah terganggu dan mampu untuk ‘let it go’

    Suka

      • sepakat. memang untuk ber-let go dan lebih merasakan mindfulness butuh suasana yang lapang. baik lapang secara ruang, clutter free secara fisik maupun lapang dalam pikiran. teringat Andy Puddicombe, get some headspace …

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s