Indonesiaku

Orang-orang Brilian di Lapau

20140628-100354-36234335.jpg

Setiap pulang kampung saya selalu menyempatkan diri nongkrong di lapau atau warung. Lapau itu sangat sederhana. Lokasinya di pertigaan jalan yang sering dilalui orang.

Menjadi kebiasaan para perantau yang pulang kampung untuk duduk di sana sambil makan sate yang enak atau sekedar minum teh talua atau teh telur, teh yang diaduk dengan telur yang jadi minuman signature di Sumatera Barat.

Para perantau yang jarang pulang itu biasanya harus memperkenalkan dirinya dengan menyebut asal kelahirannya atau nama orang tuanya. Ada kebiasan tak tertulis juga di sana bahwa perantau harus mentraktir makanan yang dipesan oleh para pengunjung di sana. Saya pernah coba dan asyik juga, itu jadi semacam ice breaking.

Obrolan mulai mengalir setelah saya memperkenalkan diri dan mulai menceritakan maksud dan tujuan saya pulang kampung kali ini. Salah satunya adalah rencana saya bersama teman-teman di rantau untuk mengadakan event selepas Lebaran untuk menjalin silaturrahim antara penduduk kampung dengan para perantau yang pulang dari seluruh Indonesia.

Nagari Magek yang berjarak sekitar 30 menit dari Bukittinggi ini penduduknya sedikit, sekitar 5.000 orang saja, tapi yang di rantau bisa 3 kali lipatnya. Bisa dibayangkan kampung ini begitu sepi, rumah banyak yang kosong dan dihuni oleh orang-orang tua yang tidak produktif. Masjid-masjid bertebaran dengan megah tapi minim jamaah.

Ketika maksud kepulangan saya itu sudah disampaikan, mulailah diskusi menjadi bergairah. Satu persatu pengunjung lapau menanggapi ide ini dan rata-rata menyambut positif.

Obrolan pun berlanjut lebih dalam ke arah yang lebih serius, masalah kampung, ekonomi, adat, agama, generasi muda dan sebagainya.

Saya dan teman yang lama di rantau tentu kurang informasi mengenai soal-soal seperti ini. Kami kebanyakan hanya mendengar saja obrolan mereka, sambil sekali-sekali mengajukan pertanyaan kepada mereka.

Salah satu pertanyaan saya adalah, apa 3 hal yang paling penting untuk ditangani di kampung ini?

Lawan bicara saya ini sepertinya berpikir keras untuk menjawab namun dengan cepat dia bisa menjelaskan dan membuat saya cukup kaget dengan jawabannya. Sepertinya orang ini cukup paham masalah dan punya solusi-solusi brilian untuk mengatasinya.

Menurutnya, masalah di kampung ini ada 3, yaitu:
1. Soal adat, banyak datuk atau pemangku adat tidak memahami adat secara benar karena saat diangkat mereka kurang dibekali ilmu yang memadai. Ia menyarankan agar para calon datuk itu dibekali training dan dibuat buku dokumentasi mengenai adat secara lengkap dan komprehensif.

2. Soal ekonomi, banyak potensi ekonomi di kampung atau nagari ini tidak tergarap optimal. Padahal segala pendukungnya sudah tersedia. Ada koperasi, BMT dan BPR.

3. Soal hubungan perantau dengan orang kampung. Menurutnya perlu dibentuk suatu forum komunikasi atau organisasi yang dapat menampung dan memberi solusi bagi masyarakat baik di rantau maupun di kampung.

Perbincangan di lapau ini mencerahkan kami yang pulang kampung tanpa tahu apa sebenarnya masalah di sana dan ingin sedikit memberi kontribusi untuk kampung tercinta ini.

Tiga masalah utama di kampung versi lawan bicara saya ini menjadi salah satu bekal yang saya bawa ke Jakarta untuk di sampaikan ke teman-teman di sana. Dari mana kami dapat informasi ini? Dari orang-orang sederhana yang ternyata pikirannya brilian di lapau sederhana itu.

Iklan
Standar

3 thoughts on “Orang-orang Brilian di Lapau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s