Indonesiaku, Mindset

Akhirnya Saya Punya Pilihan untuk Tanggal 9 Nanti

Saya termasuk orang yang ketinggalan jaman alias late adopter dalam mengikuti hal-hal yang sifatnya populer seperti membeli gadget, fashion atau yang lagi hangat, memilih capres.

Teringat waktu awal menggunakan BlackBerry dulu. Setelah 90% teman menjadi penggunanya dan saya ditanyai terus nomor PIN yang saya tidak miliki, akhirnya baru saya beli gadget itu.

Pun ketika jutaan orang sudah menjadi Apple fanboys dan mengelu-elukan produk ini, saya masih heran dan bertanya apa gunanya gadget itu buat saya?

Akhirnya saya baru bergabung setelah iPad keluar diikuti iPhone 5 dan ikut menjadi fanboy sampai sekarang.

Begitu juga dengan produk-produk fashion, boleh di bilang saya terbelakang. Kalau melihat foto-foto lama saya, pasti terlihat polanya. Pakaian saya itu-itu saja. Kalau nggak kaos oblong ya polo, plus jeans dan sepatu santai di bawahnya.

Soal makanan, ketika banyak orang memperbincangkan makanan ini itu, atau restoran yang lagi nge-hit, hampir pasti saya tidak peduli dengan itu.

Pengecualian dengan koleksi jazz dan buku. Hampir pasti saya terdepan soal ini. Hehe

Nah, soal memilih capres yang bagi sebagian orang adalah hal mudah, buat saya menjadi sulit.

Ketika seorang tokoh begitu populer, saya tidak serta merta mengikutinya. Mayoritas itu belum tentu benar, demikian kira-kira kutipan yang pernah saya baca, kalau tidak salah dari Oscar Wilde (?).

Saya pernah juga baca prinsip menarik dari tukang kayu: ukur dua kali, potong satu kali. Ingat, ukur dua kali. Berpikir matang-matang.

Persoalan memilih capres ternyata bukan hal mudah buat saya. Tidak bisa berpikir dua kali saja. Berkali-kali pun tidak cukup. Saya larut dengan lautan informasi yang saling bertolak belakang.

Ketika hati ini cenderung kepada salah satu capres, selalu muncul informasi yang membuat saya ragu. Hal yang sama juga berjadi ketika mulai menengok kepada calon lain. Berulang kali terjadi seperti ini. Terombang-ambing.

Lautan informasi itu tentu saya pilah-pilah. Banyak yang hanya “noise” alias sampah, tapi dengan tekun akhirnya berjumpa juga dengan “signal”, seperti istilahnya Nate Silver.

Dalam memutuskan, saya juga tidak hanya mengandalkan otak saja, tapi juga berusaha menggunakan hati. Membaca yang tersirat di balik yang tersurat, melihat yang tak terlihat, mendengar yang tak terucap, kata orang bijak.

Debat-debat capres/cawapres saya ikuti dengan seksama. Tidak hanya jawaban mereka yang saya cerna, tapi juga sikap, cara menjawab dan bahasa tubuh ikut menjadi penilaian saya.

Dari debat terakhir, mulai nampak titik terang hati ini cenderung ke mana. Tapi, tetap belum bulat.

Teringat beberapa waktu lalu saya diskusi dengan Mas @erbesentanu, tempat saya berguru soal hati dan keihklasan. Ada hal menarik yang ia sampaikan ketika itu.

Soal sederhana yang dekat dengan kehidupan semua orang. Tentang IBU. Ya, IBU.

Menurutnya, kita banyak melupakan IBU dalam kehidupan sehari-hari kita, termasuk dalam kehidupan bernegara.

Ibu di sini maksudnya bukan hanya ibu kita, atau wanita, tapi juga mengacu kepada kualitas ibu, sifat dan perilaku ibu.

Kita sebagai bangsa sudah melupakan cara-cara ibu kita mendidik dan memperlakukan keluarga, demikian tuturnya. Lihatlah berbagai kerusakan di negeri ini, semua karena hanya didominasi oleh otak dan perilaku bapak. Bapaklah (maksudnya laki-laki) yang banyak melakukan kerusakan di negeri ini.

Kita telah melupakan IBU. Kualitas dan karakter ibu.Banyak perilaku abnormal yang terjadi di mana-mana, semuanya karena sudah jauh dari nilai-nilai ibu.

Apa konteks diskusi soal ibu ini dengan keputusan memilih capres ini?

Di rumah saya ada dua ibu, istri dan ibu saya. Dalam menjalani hidup ini, banyak keputusan besar saya ambil setelah bertanya kepada mereka.

Kali ini saya pun bertanya kepada mereka. Siapa yang layak saya pilih tanggal 9 nanti?

Alhamdulillah, jawaban sudah di tangan saya. Dan saya lega dengan proses ini.

Saya akan coblos rekomendasi mereka tanggal 9 nanti dengan mental yang siap. Siap senang jika pilihan saya menang dan juga siap legowo menerima jika kalah. Tentu siap juga mendukung siapa pun yang dipilih oleh mayoritas rakyat nanti.

Standar

One thought on “Akhirnya Saya Punya Pilihan untuk Tanggal 9 Nanti

  1. Wah, soal nilai-nilai ibu saya berbeda pendapat sama bung Roni.
    Menurut saya justru sebaliknya. Kerusakan yang terjadi saat ini karena kurangnya nilai kelaki-lakian (alias maskulinitas).
    Kita para lelaki akrab dengan istilah “Lelaki sejati” (aka maskulinitas). Tiap lelaki mendamba menjadi seperti itu. Nah, saat inilah nilai dari “lelaki sejati” sudah redup. Kehormatan, memimpin dengan baik, adil, integritas, kerja keras, keksatriaan, itu semua telah lenyap. Hanya segelintir lelaki yang masih memegang nilai tersebut.
    Hal ini terjadi, menurut saya, justru karena kita terlalu banyak dididik Ibu (gaya pendidikan feminin) TANPA kehadiran didikan gaya seorang ayah (gaya pendidikan maskulin). Para lelaki sekarang FATHERLESS. Jadi, para lelaki tidak tahu bagaimana caranya menjadi “lelaki sejati”. Tentu saja gaya pendidikan feminin penting (ketulusan, keikhlasan, dll) tapi menghilangkan gaya pendidikan maskulin dari para lelaki hanya akan menciptakan lelaki-lelaki yang kehilangan arah🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s