Life, Minimalism

Empat Hari Bersama Stupid Phone

Baru saja melangkah turun dari mobil di bandara, secara refleks saya meraba kantong celana. Terasa tidak ada benda solid berukuran telapak tangan yang selalu berada di sana.

Jantung saya berdetak, tak percaya apa yang terjadi. Namun kenyataannya memang begitu. Handphone – tepatnya smart phone – saya tertinggal di mobil yang saat ini sudah melaju meninggalkan bandara. Sementara batas waktu check-in sudah tersisa beberapa menit lagi.

Dalam perjalanan dari rumah, hape itu memang saya charge dan diselipkan di kantong jok bagian belakang. Ketika turun dan mengangkati tas, ia terlupakan.

Saya tidak pernah meninggalkan rumah tanpa hape. Apa jadinya 4 hari di Bukittinggi nanti tanpa hape? Gak bisa update status dong.

Akhirnya saya pasrahkan saja. The show must go on. Alhamdulillah, di bandara ada wifi gratis, sehingga saya sempat mengakses Path via iPad mini mengabari teman dan keluarga bahwa hape saya ketinggalan.

Sesampai di Bukittinggi, saya langsung menuju toko hape untuk mencari cadangan hape untuk empat hari saja. Hape yang fungsional saja, bisa menelpon dan SMS. Karena dulu terbiasa dengan Nokia, maka saya tak berani ambil risiko memilih merek lain.

Dapatlah sebuah hape warna hitam dengan disain sederhana. Saya tanya harganya. “Dua setengah Pak”, jawab pelayan toko. “Dua setengah apa?”, tanya saya balik sambil berpikir masak hape seperti itu harganya 2,5 juta. Ternyata harganya 250 ribu saja🙂

Beruntung, sebagai pengguna produk Apple, semua data tersinkronisasi di semua device yang saya miliki. Data kontak yang ada di iPhone semua ada di iPad. Maka, dengan santai saya bisa menghubungi kontak-kontak penting.

Apa yang saya rasakan selama 4 hari menggunakan stupid phone ini?

Saya merasa kembali ke jaman di mana masih menggunakan stupid phone dulu. Masa di mana saya berbincang dengan orang benar-benar menikmati perbincangan. Benar-benar melakukan kontak mata tanpa terdisktraksi dengan membuka layar smart phone untuk selalu mengecek apa yang terjadi “di luar sana”.

Ketika duduk menunggu, saya benar-benar menunggu tanpa kepala selalu tertunduk ke layar. Saya dapat menikmati tingkah polah orang-orang yang lalu lalang dengan berbagai urusannya.

Dan satu lagi, saya bisa terbebas selama beberapa hari tanpa harus mencari charger di setiap kesempatan.

Setiba di Jakarta, realitasnya memang tidak memungkinkan untuk hidup tanpa smart phone. Bisnis saya sebagian besar dikendalikan dengan sarana ini. Ketika melakukan perjalanan di jalan Jakarta yang jarang tidak macet, saya sangat terbantu oleh aplikasi Waze yang cukup handal itu.

Tapi, saya mulai bisa membatasi penggunaan smart phone. Di luar jam kerja, saya bisa menonaktifkannya sampai keesokan paginya. Selain itu saya juga mencoba menonaktifkannya di saat akhir pekan. Nah, di saat-saat itulah saya kembali menggunakan stupid phone, sekedar untuk jaga-jaga in case ada yang penting saja.

Menghilangkan ketergantungan kepada smart phone sungguh sulit saat ini. Namun, mengurangi ketergantungan itu, saya sudah coba, dan itu bisa.

20140708-083521-30921790.jpg

Standar

9 thoughts on “Empat Hari Bersama Stupid Phone

  1. Selamat malam, Artikel2nya sangat menarik mas Perkenalkan nama saya Dradjad Premadi, Penulis Buku Polamatika, teknik hitung termudah di dunia dengan teknik bayangan. Polamatika adalah karya asli saya sendiri (tanpa buku referensi) Saya pernah mengisi Penataran Matematika utk guru SD se Indonesia di PPPPTK Matematika Jogyakarta yang diselenggarakan oleh Dirjen Dikdasmen pada Agustus 2007. Sayangnya perhatian dari pemerintah cuman sebatas Penataran diatas tanpa ada tindak lanjutnya. Sebetulnya saya hanya memiliki impian sederhana “Polamatika bisa dikenalkan ke seluruh kabupaten kota di Indonesia” karena Polamatika ini adalah terapi matematika yang hanya dalam waktu 1 jam saja siswa sudah tidak takut lagi dengan matematika selamanya. Mungkin bisa fasilitasi saya utk mewujudkan impian sederhana saya tersebut, karena saya coba menghubungi beberapa tokoh nasional…tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Informasi tentang saya bisa dicari di google, selama ini saya berjuang sendirian utk mengenalkan polamatika ini di beberapa kota Salam kenal, dan sukses di pekerjaan mas rony Jika pada metode hitung cepat lain, utk belajar teknik bayangan butuh waktu 16×60 menit, maka di Polamatika utk belajar teknik bayangan perkalian acak 867×9 =…. 739×7=….hanya butuh waktu 60 menit utk anak kelas 3, dan dipakai selamanya. Info lengkap di http://www.polamatika.com atau di you tube Saya sendiri tinggal di Jl Hayam Wuruk, kec.Ambulu, 25 km selatan Kota Jember HP 081358092200

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s