Life

Masih Adakah Media Sosial yang Menyenangkan?

Beberapa waktu terakhir ini saya merasakan bermedia sosial itu makin tidak menyenangkan. Hal ini terutama saya rasakan saat kerasnya persaingan pada kampanye pilpres kemarin.

Pembaca pasti mengalami hal yang sama dengan saya. Coba buka Facebook. Apa yang anda dapati? Semua orang nyinyir dengan status yang membela dan menjelek-jelekkan para calon presiden. Mulai dari yang soft sampai yang keras, diikuti link-link yang mendukung pendapatnya.

Begitu juga ketika menyimak linimasa di Twitter. Teman-teman atau tokoh yang saya follow tiba-tiba berubah. Yang tadinya bijak dengan twit-twit yang menyegarkan pemikiran, berubah menjadi keras dan galak setiap hari.

Hal seperti ini juga mulai terjadi di Path yang sifatnya lebih personal dan terbatas. Cuma di sini masih soft dibandingkan di Facebook dan Twitter.

Tak hanya soal copras-capres ini yang mengganggu saya, tapi juga komentar-komentar tentang apa saja yang bukan urusannya. Soal urusan selebritis yang merupakan urusan pribadinya dikomentari macam-macam (baca: bully) seolah-olah komentator itu lebih baik daripada yang dikomentari. Seolah-olah menilai orang lain berdasarkan kacamata kita itu membuat kita terlihat lebih baik. Padahal memperbaiki diri sendiri lebih penting daripada menilai orang lain yang bukan urusan kita.

Beruntung, di Twitter ada opsi untuk membuat list. Saya bisa membuat list twit-twit yang bagus dan tematik sesuai minat saya tanpa membaca linimasa yang campur aduk itu.

Lantas, adakah media sosial yang masih menyenangkan saya saat ini? Adakah media sosial yang masih steril dari hal-hal yang tidak saya sukai?

Jawabnya, ada.

Sekarang saya memilih lebih banyak membuka media sosial seperti Intagram dan Pinterest.

Di Instagram saya mem-follow gambar-gambar yang temanya saya sukai seperti foto tempat-tempat indah di dunia, foto-foto human interest yang inspiratif, foto-foto karya para pelukis dan sebagainya. Semuanya membuat saya senang, karena gambar-gambar itu minim teks dan bisa memancing imajinasi.

Begitu juga dengan Pinterest, tempat orang berbagi gambar-gambar yang mereka sukai. Saya banyak mengoleksi gambar-gambar dengan tema yang saya sukai, seperti: kutipan-kutipan inspiratif dari Paulo Coelho, Rumi atau Henry David Thoreau atau kutipan tentang gaya hidup minimalis. Saya juga suka dengan gambar-gambar bertema disain, baik itu arsitektur, interior, typografi atau taman. Saat ini saya lagi gemar mengoleksi gambar-gambar rumah kecil atau tiny house yang lagi tren di barat sana. Banyak ide yang didapat dari memelototi Pinterest ini.

Kesimpulannya, masih ada media sosial yang membuat saya merasa senang dan terinpirasi tanpa teracuni oleh hal-hal negatif yang membuat tidak nyaman. Saya meyakini, kalau hal-hal negatif itu banyak masuk ke pikiran kita akan menjadi racun. Ketika racun itu diolah di otak, keluarnya juga racun yang lebih dahsyat lagi. Di tengah hiruk-pikuk semua itu, saya masih punya kebebasan untuk memilih.

Standar

6 thoughts on “Masih Adakah Media Sosial yang Menyenangkan?

  1. bener banget tuh mas. buka fb isinya soal capres dan segala macamnya. buka path pun juga mulai isi gituan. twitter dah lama sih gak buka.
    nah kalau instagram n pinterest, memang ada, tapi jarang buka dan update saya.🙂

    seharusnya media sosial ini untuk hiburan, untuk aktualisasi diri, namun sering orang menggunakannya dengan semau gue… jadi suka males buka akhirnya.

    Suka

  2. Aris berkata:

    Sepakat pak, dari kemarin juga udah lebih sering main instagram sama deviantart aja, sama browsing2 aja di business insider. kalo path nengok2 dikit, kebetulan ada temen yang kerja dimedia salah satu pendukung capres, isinya nyinyir semua.. dan dengan galak bilang “kalo ngga suka, unshare gw aja” hahaha..
    kalo facebook & twitter lagi ngga dulu deh udah kaya “medan perang”

    Saya sendiri pendukung salah satu capres yang nggak menang.
    bisa kok nerima kekalahan dan mau kok ngedukung presiden yang baru.

    tapi kok masih terus2an di sindir ya sama pendukung capres yang menang, agak jengkel juga, walau ngga bikin “gontok” hati.

    Menurut saya beberapa tindakan “kekanakan” kedua pendukung yang saling nyinyir dan gontok2an ini bisa jadi awal dari ketidakharmonisan, malah mungkin emang udah masuk ketidakharmonisan.

    memang warga kita sekarang sudah pintar-pintar, tapi masih belum bisa bijak untuk menggunakan kepintarannya, toh banyak juga tokoh yang pintar kok malah jadi berubah drastis, seperti yang pak roni sebutkan diatas.

    bukannya para tokoh itu yang harusnya mencairkan suasana dan membuat keadaan tidak memburuk ya.

    Semoga kedepannya bisa lebih baik negeri dan warga kita

    Amin..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s