Indonesiaku, Mindset

Otak Reptil

Sambil menikmati hujan di akhir pekan, saya membolak-balik halaman Linchpin dari Seth Godin.

Seperti biasa, pemikirannya sering membakar.

Saya tertegun membaca soal otak reptil.

Begini bunyinya.

Otak reptil itu lapar, takut, marah dan nafsu (okey, saya akan berusaha kuat mengenalinya dan menekannya sebisa mungkin).

Otak reptil hanya ingin makan dan merasa aman (oo, mungkin ular yang tiba-tiba menyambar itu karena terganggu rasa amannya).

Otak reptil akan berjuang jika terpaksa, tetapi akan memilih untuk lari (atau menyalahkan pihak lain, menganggap pihak lain dan bukan dirinya yang bertanggung jawab terhadap kehidupannya).

Otak reptil suka membalas dendam dan tiada segan untuk mengamuk (hmm.. terbayang sebuah kelompok yang kerap melakukan ini).

Otak reptil memperhatikan apa yang dipikirkan orang lain. Status dalam kelompok merupakan sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidupnya (membeli status dengan korupsi, why not?).

Seekor ayam yang menyeberangi jalan bukan karena ia ingin melakukannya. Tapi karena otak reptilnya memerintahkan begitu.

Otak reptil ada di ujung atas tulang belakang anda.

Ia berjuang untuk kelangsungan hidup Anda.

Namun, kelangsungan hidup dan kesuksesan bukanlah hal yang sama.

Otak reptil ada sumber dari resistensi.

Terbayang, beberapa kejadian, beberapa tokoh, beberapa kelompok yang melakukan hal-hal yang dicirikan oleh penulis ini.

Budaya kekerasan, korupsi, rasa tidak percaya, anak dan remaja yang galau, rasa saling curiga, konflik karena perbedaan pandangan dan cara.

Semua bersumber dari kurangnya rasa aman dan ketakutan.

Budaya reptil.

Apakah kebudayaan kita masih di level ini?

Standar

8 thoughts on “Otak Reptil

  1. menarik Pak Ron.
    minggu² terakhir ini sy jg lbh memilih acara TV ttg dunia animal. lalu menghubungkannya dg perilaku manusia.
    ya yg di sekitar kita.. ya yg ribut² di media..
    bisa bikin senyum² sendiri🙂
    #OtakReptil

    Suka

  2. Jadi ingat pernah ada bahasan ini di kuliah semester kemarin. Bagian otak yang ngontrol segala aktivitas refleks, dimiliki reptil dan mamalia. Bedanya, mamalia punya bagian otak lain yang lebih besar.

    Oya, saya suka pertanyaan di akhir post, “Apakah kebudayaan kita masih di level ini?” jadi bikin mikir kalo kebanyakan kita masih bertindak berdasarkan ‘hal-hal refleks’ (baca: darurat, mendadak), jarang ada pikiran dan perencanaan panjang

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s