Indonesiaku

Antara Saya dan Ahok

Kemarin saya sempat terkekeh membaca berita tentang Ahok mencoret proposal dari DPRD dengan menulis komentar “Pemahaman Nenek lu”.

Itu hanya salah satu gaya Ahok dari sekian banyak yang saya amati yang semakin lama semakin mengingatkan saya dengan masa kecil dulu.

Lho, apa hubungannya?

Ketika pertama merantau dari Belitung, Ahok tinggal di Pademangan. Ya, saya juga tinggal di Pademangan. Kebetulan juga Ahok kuliah di kampus yang sama dengan saya, Trisakti.

Daerah Pademangan itu adalah daerah yang banyak didiami oleh etnis China, sekarang menyebutnya Tionghoa. Tetangga saya samping kiri, kanan, depan, belakang adalah orang Tionghoa. Saya akrab betul dengan keseharian mereka, gaya bicara dan kebiasaan mereka. Maka saya sering tersenyum melihat gaya Ahok yang mengingatkan masa kecil saya.

Teman-teman rumah saya semuanya anak Tionghoa. Setiap sore kami sering main bersama. Mereka sering ke rumah saya untuk main bola atau main gambaran (nggak usah dijelasin ya).

Karena usia saya lebih tua dari mereka, mereka menganggap saya sebagai Kepala Suku, tempat bertanya dan minta pendapat. Kadang mereka ribut soal film Voltus atau Megaloman. Ketika tidak ada kesepakatan, mereka bersama-sama ke rumah saya untuk minta pendapat atau keputusan saya. Biasanya kalau saya bilang A, ya  mereka pun manut.

Karena saya orang Minang, mereka memanggil saya Uda, artinya kakak. Tapi lucunya, dalam percakapan sering terjadi seperti ini, “Da, menurut lu gimana?”. Kata Uda yang merupakan penghormatan kepada yang lebih tua digabung dengan Elu yang egaliter, menjadi lucu. Mereka belum paham.

Setiap Imlek biasanya kulkas kami penuh dengan Kue Cina yang seperti mangkok berwarna coklat rasanya manis. Kami pun demikian, setiap malam Takbiran, sering mengantarkan ketupat lebaran ke tetangga-tetangga itu.

Satu hal lagi yang sering saya ingat dari para tetanga saya ini, mereka gaya bicaranya temperamental, nada suaranya tinggi, bahkan sering berantem dan bikin berisik. Ya, mirip dengan gayanya Ahok ini. Kalau bicara nggak lihat lawan bicara, langsung aja, tanpa mempertimbangkan lawan bicaranya tersinggung. Itulah gaya orang-orang Tionghoa yang saya akrabi sejak kecil di Pademangan.

Namun, akhirnya saya memahami bahwa mereka itu sebetulnya bicara jujur apa adanya. Tidak ditutupi dengan basa-basi yang seolah-olah ramah padahal di belakang bicaranya lain. Itu yang saya suka dari gaya mereka. To the point.

Terakhir saya ingat beberapa waktu lalu dapat BBM dari Amiau, salah satu tetangga masa kecil yang kakinya cacat tapi semangat hidupnya luar biasa. Sekarang ia jadi pengusaha bahan bangunan. Ia mengajak saya reunian dengan teman-teman lain seperti Acung, Pendi, Aloy dan lain-lain. I miss them, too.

Iklan
Standar

5 thoughts on “Antara Saya dan Ahok

  1. Haris Fadillah berkata:

    Karena kemajemukan yang membuat saya masih betah di Pademangan. Bang Roni, kalo main ke Pademangan kita sharing2 dunk tentang usaha. #BosanJadiKaryawan

    Suka

  2. ari berkata:

    Subhanallah, kejujuran(blak2an/apa adanya), memang sepertinya kata yg sederhana tp majemuk penafsiran, tanggapan?penerimaannya. Semoga esok lebih baik. Amiiin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s