Business

Tren Ritel dan Multi Channel

Selepas mengantar anak masuk sekolah hari pertama kemarin, saya mengajak istri untuk main-main ke pasar Tanah Abang. Muter-muter aja, cari ide dan inspirasi, argumen saya.

Habis Lebaran ini memang aktivitas bisnis sedang turun. Di waktu-waktu lengang seperti ini biasanya kami manfaatkan untuk membenahi bisnis dan jalan-jalan mencari inspirasi. Ini adalah masanya “mengasah gergaji”. 

Ibarat gergaji, bisnis sepanjang tahun kita geber terus untuk memotong kayu alias ngejar omzet. Ada saatnya dia perlu istirahat dan diasah biar lebih tajam digunakan saat kondisi sudah normal kembali.

Menginjakkan kaki di “kampus” kami di Tanah Abang, terkenang kembali masa-masa kuliah di sana tahun 2001 sampai 2004 lalu. Kami tidak sukses secara pencapaian di sana. Tapi kami sukses mendapat pembelajaran berharga di sana.

“Nanti kita makan siang di Soto Si Das ya”, ajak saya yang dengan cepat disetujui oleh istri saya. Ini soto langganan kami. Kadang kami mampir ke Tanah Abang khusus untuk melepas rindu dengan soto Padang dengan cita rasa yang ngangenin ini.

Banyak perubahan di Tanah Abang ini. Setiap kali datang selalu ada perubahan kami saksikan. Ada toko yang pindah, toko yang berganti dagangan, toko yang tadinya besar jadi kecil sampai toko yang besar dibelah-belah jadi kios-kios kecil. Di Tanah Abang ini, bagi yang matanya jeli, di sinilah kita belajar bahwa untuk dapat bertahan dan terus bertumbuh harus cepat beradaptasi dengan perubahan.

Tanpa sadar kaki kami sampai di salah satu toko kerabat yang sekarang sudah berganti dagangan yang sebelumnya celana formal menjadi jeans. 

Rasa ingin tahu saya timbul, kenapa diganti? Bukankan celana formal lebih mudah dan cepat proses produksinya dibandingkan jeans? Kerabat ini punya alasan bahwa celana jeans justru lebih cepat dan mudah pengerjaannya. Permintaan pun lebih tinggi dibanding celana formal karena dipakai lebih sering. Dan itu terbukti dari peningkatan perputaran omzet di tokonya. 

Ia pun menekankan bahwa kalau tidak cepat berubah, bisnis kita akan jalan di tempat atau malah mundur. Ada cerita menarik tentang tren baru pemilik toko di Tanah Abang yang membuka toko-toko ritel di berbagai daerah. Jadi trennya, grosir juga ritel juga, sambil menyebutkan beberapa pemilik toko grosir yang sukses dengan cara ini. 

Ini fenomena menarik, menurut saya. Pendekatan distribusi dengan multi channel/saluran, tidak hanya mengandalkan satu channel distribusi grosir saja. Bisnis busana muslim kami pun saat ini tengah mengarah ke sana. Sejak akhir tahun lalu kami aktif membuka beberapa toko ritel di beberapa wilayah. 

Trennya sekarang adalah multi channel. Jangan hanya mengandalkan satu channel saja. Buat yang jualan grosir, harus juga buka channel ritel dan online. Buat yang sudah punya toko ritel, coba juga rambah online via media sosial (Facebook, Instagram, BBM, Line),  website, atau market place (Tokopedia, Bukalapak, Zalora).

Saya juga kaget ketiga raja e-commerce dunia, Amazon saat ini gencar membuka toko-toko offline di seantero Amerika. Lho, kok bisa? Saat ini keberadaan konsumen semakin terfragmentasi ke channel-channel yang disukainya. Yang suka nongkrong di Instagram gak suka main di Facebook. Yang suka belanja offline gak nyaman belanja online. Mereka itu harus didatangi dengan cara-cara yang mereka suka. Jadilah istilahnya Omni Channel, di mana batasan antara channel-channel itu tidak ada lagi dan menjadi lebur.

Akhirnya kunjungan di Tanah Abang kami akhiri dengan hidangan Soto Si Das. Karena sudah kangen, dua porsi soto pun tandas. Mencari soto ini pun tidak mudah, kami harus bertanya dan mencari lagi karena ia sudah pindah dari kios lama di pinggir kali dekat Blok F, tempat kami terakhir makan lebih dari setahun yang lalu. Pasar Tanah Abang memang selalu wajib dikunjungi untuk memantau tren, mencari inspirasi juga untuk melepas selera.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s