Business

Membeli dengan Hati, Bukan Pikiran

Starbucks bukanlah kedai kopi yang menyediakan kopi paling enak. Masih banyak kedai lainnya yang lebih baik rasa kopinya.

Tapi kenapa saya selalu menyempatkan diri mengunjunginya? (Meski pun sekarang frekuensinya makin berkurang sejak saya lebih senang menyeduh kopi sendiri di rumah)

Suasananya itu lho.

Terutama untuk kedai yang tidak begitu ramai, saya sedang duduk berlama-lama di sana sambil membaca, menulis atau berpikir (baca: melamun).

Rasa kopi panas yang lumayan (karena saya sudah tahu rasa kopi yang enak), disain dan suasana interior yang membuat nyaman mata dan alunan lagu-lagu jazz mainstream lawas yang nikmat di telinga membuat saya merasa nyaman dan sekaligus produktif.

Halaman-halaman buku yang biasanya berat untuk diselesaikan, entah mengapa menjadi ringan di sini. 

Kedai kopi ini menjual suasana sebetulnya. Berada di dalamnya orang merasa nyaman, santai dan senang. Pikiran menjadi lebih terbuka di saat santai. Sementara di tempat kerja sendiri yang seharusnya menimbulkan suasana seperti ini, malah sulit didapat.

Di sinilah pintarnya Starbucks “mengunci” pelanggannya dengan suasana yang nyaman. Logika pikiran bahwa harga kopinya mahal menjadi tidak relevan. Pelanggan telah terbeli hatinya dan di situlah letak kunci pemasaran masa depan. Sentuh hatinya, perasaannya, bukan logikanya.

Standar

2 thoughts on “Membeli dengan Hati, Bukan Pikiran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s