img_4450-1
Life

Menulis dengan Pena

Beberapa waktu lalu saya membaca artikel yang bergargumen dan mengajak pembacanya untuk menulis menggunakan pena. 

Alasannya, manusia modern sekarang ini sehari-harinya disibukkan dengan gadget atau alat elektronik. Menulis lebih banyak dilakukan dengan mengetik. 

Saya sendiri selama ini jarang sekali menulis dengan pena. Paling-paling cuma untuk tanda tangan saja. Selebihnya mengetik, baik itu di smart phone atau menggunakan papan ketik.

Padahal, menurut tulisan itu, menulis dengan pena itu beda “sensasinya” dengan mengetik. Menulis dengan pena itu melibatkan lebih banyak indera kita. Mata, pikiran, jari dan perasaan terlibat menyatu saat menulis dengan pena. Ketika semua itu menyatu, kita menjadi terfokus, mindfulness istilah kerennya.

Nah, untuk terfokus itu sangat mahal harganya sekarang ini. Sulit sekali untuk fokus melakukan satu hal saja saat ini. Smartphone telah mencuri daya fokus kita. Sebentar-sebentar maunya mengecek notifikasi yang selalu muncul.

Saya pun praktekkan ide “kembali menulis dengan pena” ini. Hasilnya memang beda sensasinya. Saya menjadi lebih terfokus, menikmati detik demi detik proses itu. Saya bisa bertahan dalam waktu lama dalam kondisi terfokus ini.

Biasanya saya membaca buku digital dan setiap ada kutipan penting selalu saya highlight dengan mudah karena fasilitas itu sudah tersedia. Sekarang tidak lagi. Hal-hal yang penting saya coba tuliskan di buku. 

Memang prosesnya menjadi lama. Tapi ada hal sensasi lain saya dapatkan ketika menulis itu. Saya menjadi lebih sabar, menikmati proses yang melambat itu.

Menuliskan huruf demi huruf yang ditulis di buku catatan itu rasanya seperti sedang melukis. Torehan tinta pena itu saya rasakan seperti karya seni kaligrafi. Dalam upaya itu saya juga merasakan lebih meresapi dan memahami kata demi kata dibandingkan melakukan proses highlight instant di gadget.

Saya menikmatinya dan menjadi ketagihan melakukannya. Memang, harus ada yang yang saya korbankan. Kecepatan menjadi jauh berkurang. Tapi hidup ini bukanlah selalu soal kecepatan, kata mendiang Gandhi. 

Standar

5 thoughts on “Menulis dengan Pena

  1. Sama Pak Roni. Selain ngeblog saya juga masih menulis di buku journal dengan ballpoint. Kata teman yang mendalami grafologi, ada metode tertentu untuk terapi menggunakan tulisan…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s