Parenting

Kesepakatan

Soal kesepakatan adalah hal menantang di rumah kami, terutama buat Vino si bungsu.

Vino adalah tipe anak yang menantang dalam soal ini. Ia sulit “diikat” dengan kesepakatan, selalu berkelit dan berusaha mengakali aturan yang dibuat.

Namun, beberapa studi terakhir yang saya baca mengatakan bahwa anak yang suka memberontak justru akan lebih berhasil ketimpang si penurut. Dia punya berani bersikap berbeda dan tidak bisa didikte.

Ini adalah berita gembira, saya sampaikan ke istri. Tinggal bagaimana kita bisa bersabar dan mengelolanya tetap dalam koridor yang baik.

Sebagai contoh, untuk bersepakat soal memilih restoran saja, kami harus berdebat cukup lama.

Kemarin adalah giliran Vito yang menentukan pilihan restoran, karena sebelumnya adalah Vino. Vino tidak bisa menerima hal ini.

Oke, Papa kasih kesempatan kalian berunding dulu. Mereka pun memisahkan diri beberapa saat. Tapi kesepakatan tidak tercapai. Vino ngotot tidak mau ikut aturan. Saya pun tidak ingin meminta Vito kakaknya untuk mengalah, karena kali ini adalah haknya menentukan pilihan.

Setelah perundingan tidak tercapai, opsi ketiga adalah menyerahkan pilihan kepada Mama. Kalau pilihan Mama tidak diterima juga, akhirnya Papa yang menjadi penentunya. Dan pilihan Papa nanti adalah tidak enak. Bisa jadi kita akan pulang saja dan makan di rumah.

Mendengar itu Vino pun surut dan mau mengikuti pilihan Mamanya.

Opsi terakhir ini saya dapat idenya dari Mona Ratuliu, artis yang juga orang tua yang punya passion begitu besar dalam mendidik anak. Kebetulan saya dan istri beberapa kali bekerja sama dengan Mona mengadakan seminar tentang Parenting. Menurut Mona, jika kesepatan sulit dicapai, buat opsi “enak dan nggak enak”, sehingga si anak pasti memilih yang enak yang sesuai dengan keinginan orang tua.

Belajar bersepakat dan berkomitmen terhadap kesepakatan harus dibiasakan sejak kecil. Bayangkan jika mereka besar nanti dan menjadi pemimpin yang tidak bisa bersepakat, tidak bisa berkomitmen terhadap kesepakatan aturan. Organisasi yang dipimpinnya akan chaos. Akhirnya kekerasan dan paksaan menjadi panglima.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s