Health, Life, Mindset

Bahagia, Harus Traveling?

Banyak quote tentang happiness menganjurkan supaya bahagia harus sering jalan-jalan.

Maka boominglah gaya hidup traveling dan jadi impian banyak orang. Bahkan banyak yang ngumpulin duit khusus untuk jalan-jalan jika ada libur panjang atau cuti.

Jalan-jalan jadi perlu karena tekanan hidup dan pekerjaan di kota besar mengharuskan ada jeda supaya segar dan waras lagi.

Sehingga pulang dari jalan-jalan sudah lebih siap lagi menghadapi tekanan itu.

Pertanyaannya, apakah traveling adalah jalan utama untuk melepaskan kepenatan hidup? Apakah bisa semua itu didapat tanpa harus jalan-jalan alias di rumah saja?

Ternyata bisa.

Adalah Gretchen Rubin penulis buku laris Happiness Project yang menyatakan dia sukanya di rumah saja. Dia tidak suka jalan-jalan.

Bahagia itu bisa diciptakan dan dikondisikan di rumah. Jika hubungan kita dengan keluarga bagus, tentu rasa bahagia itu dirasakan dengan sendirinya.

Selain itu hal-hal di luar itu juga bisa dikondisikan. Happiness by Design adalah buku menarik soal ini. Saya baca setelah melihat Instragramnya walikota Bandung Ridwan Kamil. Ia menerapkan prinsip-prinsip di buku ini dalam menata Bandung agar membahagiakan warganya.

Dekatkan dan lakukan hal-hal yang membahagiakan kita di rumah.

Membaca membuat saya bahagia. Menulis juga begitu (menulis dengan pena, bukan mengetik). Melukis apa lagi, rasa senangnya sama dengan melihat pemandagan indah di tepi pantai. Mendengar musik yang indah plus ditemani secangkir kopi atau teh panas, wow, sempurna.

Efeknya hormon bahagia yang dihasilkan sama dengan jalan-jalan ke Bali, misalnya. Sensasinya aja yang beda.

Di otak kita ada hormon-hormon bahagia yang jika itu ditembak dengan tepat, akan menghasilkan efek yang diinginkan. Tidak perlu usaha keras, waktu dan biaya besar.

Banyak hal yang bisa dicoba di rumah untuk mendapatkan efek itu. Dicoba aja sesuai dengan kesukaan kita masing-masing.

Jika ada long weekend dan takut macet di tol Cikampek menuju Bandung, hal-hal sederhana di atas bisa dicoba.

Iklan
Standar

4 thoughts on “Bahagia, Harus Traveling?

  1. Mai zaa berkata:

    Terima kasih atas pencerahannya Pak Roni.

    Saya termasuk orang yang jarang traveling, setahun paling 1 kali, itu pun pas lebaran, hehe..
    Selain waktu nggak ada budgetnya masih terbatas.
    Kadang bisa jenuh juga sih kerja terus.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Herry Sinamarata berkata:

    Menarik sekali tulisan pak Roni mengenai gaya hidup traveling. Dan, gaya hidup ini memang tumbuh subur di lingkungan generasi milenial. Saya sendiri sejak pensiun sebagai wartawan lebih senang tinggal di rumah dan mengerjakan hal-hal yang kita senangi seperti menulis dan membuat laporan monitoring dan rekomendasi pemberitaan untuk klien…Maklumlah, saya dan bersama teman sedang membangun usaha di bidang Konsultan PR —Pekerjaan yang menyenangkan itu kadang membuat saya lupa waktu…Ternyata saya bekerja saat banyak orang sedang berlibur, berwisata memanfaatkan waktu long weekend, libur panjangnya….Jadi, setuju dengan Pak Roni…di rumah atau di tempat wisata atau di mana saja kita berada….insya Allah kita bisa merasakan kebahagiaan itu…

    Suka

  3. Setuju Pak, yang penting hormone stress-nya release. Hal yang saya sukai kalau dirumah adalah mencoba resep baru, makan, berkebun dan membaca. Atau berlama2 berendam rasanya sudah rileks banget đŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s