Minimalism

Sharing Gaya Hidup Minimalis

Yes, akhirnya saya diundang untuk bicara tentang gaya hidup minimalis. Setelah menulis dan mempraktekkannya sejak tahun 2010. Tepatnya mulai menulis tahun 2009 dan secara “resmi” berkomitmen mempraktekkannya paska lebaran 2010.

Ini memang gerakan senyap, sedikit peminat dan pengikutnya. Namun, belakangan ini mulai dapat momentumnya. Sejak laris manisnya buku The Life-Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo dan film dokumenter Minimalism dengan dua tokoh sentral Joshua F Millburn dan Ryan Nicodemus, aktor di belakang blog terkenal The Minimalists.com.

Saya diundang oleh beberapa orang anak muda dari Project Semesta yang begitu semangat mengkampanyekan gaya hidup berkelanjutan (sustainabel living), termasuk di dalamnya gaya hidup minimalis.

Dari pertanyaan yang diajukan, beberapa peserta tertarik dan sudah menjalani gaya hidup minimalis disebabkan beberapa hal seperti:

– Berlatar belakang pendidikan disain (arsitektur, produk, lansekap) yang memang mengajarkan prinsip-prinsip disain minimalis dan sustainable living.

– Para pekerja generasi milenial yang sudah mulai sadar dengan jebakan konsumerisme, hutang kartu kredit, dan kemacetan yang melelahkan setiap hari. Mereka ingin mencari alternatif solusi yang membuat hidup lebih lega lagi.

– Ada juga yang mengalami stres bahkan depresi menjalani hidup yang saat ini sebetulnya serba berlimpah, berlimpah pilihan, berlimpah informasi. Justru itulah yang membuat mereka stress, karena keberlimbahan itu membuat bingung untuk memilih mana yang penting dan utama. Paradox of choices.

Saya sampaikan bahwa gaya hidup minimalis bukan hanya soal membatasi jumlah barang yang kita konsumsi, namun sebenarnya adalah soal mengelola energi dan perhatian untuk hal-hal yang penting dan utama dalam hidup kita. Apa itu? Setiap orang tentu beda-beda. Bisa jadi itu soal hubungan, kesehatan, spiritualitas, nilai-nilai, tujuan, kontribusi, keseimbangan hidup dan sebagainya. Ketika hal-hal utama itu sudah jelas, maka selain itu menjadi tidak prioritas lagi. Setelah itu seluruh energi dan sumber daya diselaraskan dengan hal-hal utama dan penting itu. Hasilnya, hidup jadi memiliki ruang yang lega untuk dijalani dan bertumbuh.

Intinya melalui tulisan ini saya merasa senang dan antusias diberi kesempatan berbagai tentang gaya hidup minimalis. Harapan saya tentu hal ini akan disambut oleh khalayak lebih luas lagi, karena menurut saya ini penting. Jumlah penduduk makin banyak, bahkan kabarnya konsumsi penduduk dunia sudah 1,6 kali kemampuan bumi menghasilkannya.

Juga dampak lain dari gaya hidup minimalis atau gaya hidup senderhana ini tentu akan berkaitan dengan turunnya angka korupsi yang sampai sekarang masih bikin pusing pemerintah. Sangat logis, ketika orang sudah mampu mengendalikan diri dari konsumerisme, hidup sederhana, dan merasa cukup, lantas buat apa korupsi lagi? Akarnya korupsi ada adalah karena keserakahan dari orang yang hidupnya dikendalikan oleh keinginan berlebihan, padahal kebutuhannya sudah lebih dari cukup. Memberantasnya dengan ditangkapi oleh KPK itu bagus, namun ketika akar penyebabnya tidak disembuhkan, tetap akan muncul lagi generasi koruptor berikutnya.

Standar

2 respons untuk ‘Sharing Gaya Hidup Minimalis

  1. Ping-balik: Digital Nomad – Info BIZ Daily

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s