Menulis untuk Menulis

Dulu hampir tiap hari saya menulis di blog. Sekarang, dalam setahun tidak sampai penuh jumlah jari yang sepuluh.

Apakah saya sendiri yang mengalami? Saya pun iseng blog-walking kemarin ke blogger-blogger veteran angkatan saya seperti Ndoro Kakung, Enda Nasution, Priyadi, Mbelgedez, Budi Rahardjo, Yodhia Antariksa, Evi Indrawanto, Nuniek Tirta, Salsabeela (Ollie).

Sebagian blognya sudah vakum, sebagian ternyata masih aktif. Bahkan blognya Mas Yodhia makin moncer dan fenomenal sekarang. Blognya Uni Evi berubah fokus jadi blog traveling.

Kami semua pernah berkumpul bersama di ajang tahunan Pesta Blogger. Bahkan nama “pesta” itu menginspirasi saya membuat acara Pesta Wirausaha TDA yang sampai sekarang masih eksis bahkan sampai ke beberapa kota.

Ketika ditanya, kenapa sekarang jarang ngeblog? Pastilah jawabnnya klise, karena terganggu oleh media sosial lain seperti Twitter, Instagram, Facebook, Youtube. Tapi ketika ditanya, dulu asalnya dari mana? Ya pasti saya jawab dari blog. Aslinya saya blogger. Bukan Twitterer, Instagrammer atau Youtuber.

Kenapa dulu aktif ngeblog? Karena saya suka berbagi. Saya suka membaca, melihat, mendengar hal-hal yang menarik untuk dibagikan di blog. Saya suka menuliskan apa saja.

Rasanya nikmat ketika apa yang menumpuk di pikiran itu tersalurkan melalui tulisan, meski pun kemampuan berpikir dan menuliskannya itu suka ada kesenjangan. Apa yang dituliskan itu tidak akan 100% sama dengan apa yang dipikirkan.

Tujuannya menulis untuk apa? Ya supaya ada yang dapat manfaat, inspirasi. Ah, itu klise. Supaya dapat banyak like dan dishare menjadi viral. Ya, itu bagus tapi kalau itu tujuannya, kita jadi tertekan oleh tujuan itu. Melihat tulisan orang lain dibaca ribuan orang sementara tulisan kita hanya puluhan, kita jadi tertekan.

Setelah merenung cukup dalam, akhirnya ketemu, tujuan menulis ya untuk menulis. Titik.

Seperti makan, tujuan makan ya supaya sehat dan kenyang. Yang merasakan diri sendiri.

Tujuan ngopi yang ngopi. Nikmatnya kopi dirasakan sendiri.

Tujuan menggambar ya menggambar. Kalau diposting di Instagram dan mendapat banyak like, itu bonus aja. Tetap tujuan utamanya menggambar ya untuk menggambar.

Ketika itu diyakini dan dijalankan, makanya tidak ada beban. Apa pun yang kita lakukan jadi mengalir dan prosesnya dinikmati. Setelah tulisan itu jadi, terlepas bagaimana pun kualitas atau respon pembaca, saya tetap menikmati dan bahagia karena berhasil menulis.

Mohon dukungannya yaa. Sekali-sekali mampirlah di blog ini. Bonus buat saya, hehe.

 

 

7 pemikiran pada “Menulis untuk Menulis

  1. bener sekali pak Roni, beberapa temen yang memang tujuannya copywriting buat bisnisnya suka ngeluh: artikelnya nggak ada yang baca.
    Dan saya bilang, kalu nggak dibaca orang, google mbaca kok 😀
    Suatu saat ada yang nyantol hehehehe
    Btw, saya masih konsisten ngeblog dari 2008, karena memang masih ngajar Literasi Digital, biar menginpirasi dan mengharukan^^

    Disukai oleh 1 orang

  2. Wuwuauaua saya juga lama. Pak ga nulis blog. Kemarin ketika baca tulisan teman yang mulai ngeblog lagi senang rasanya. Seperti tergelitik untuk menulis lagi. Terima kasih, Pak sudah menuliskan ini. Jadi suntikan semangat untuk memulai lagi. Salam..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s