2020 Tanpa Java Jazz

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak hadir pada Java Jazz 2020 ini. Rekor hadir tanpa putus sejak 2005 pun akhirnya rusak.

Ada beberapa alasan kenapa saya tidak hadir. Salah satunya adalah, saya tidak tahu mau nonton apa di Java Jazz Festival (JJF) kali ini. Sebagian yang akan tampil pun sudah pernah tampil beberapa kali. Tidak ada yang baru buat penggemar jazz angkatan saya ini. Tony Monaco, New York Voices, Phill Perry, Harvey Mason, Brian Simpson, Mike Stern, Ron King… semuanya sudah pernah saya tonton bolak-balik.

Wajah Java Jazz beberapa tahun terakhir ini memang berubah. Lebih mengarah ke pasar milenial, meninggalkan pasar kolonial seperti saya ini. Masuk akal sih. Crowd-nya memang ada di situ.

Teman diskusi saya soal jazz, Mas Yuswohady pun ternyata memutuskan hal yang sama tahun ini. Ia pun bingung mau nonton apa tahun ini. Ekspektasinya untuk menonton jazz murni makin tidak terpenuhi.

Teman lain, Mas Agus Setiawan Basuni dari Warta Jazz memberi pencerahan bahwa orientasi penyelenggara JJF beberapa tahun ini berpindah dari Amerika ke Eropa. Mungkin setelah sekian tahun JJF, musisi jazz Amerika sudah diborong semua, sehingga nyaris tak tersisa siapa lagi yang belum tampil di JJF.

Padahal, menurutnya musisi-musisi asal Eropa tak kalah variatif dan berkualitas permainannya. Cuma, penggemar di sini belum akrab karena kurang populer dan masih berorientasi ke Amerika. Contohnya tahun lalu saya begitu menikmati trio Go Go Penguin asal Manchester Inggris itu.

Ke depan apakah saya tetap akan tidak hadir di JJF? Oh, tentu tidak. Saya akan tetap hadir dan menikmatinya dengan menurunkan ekspektasi saya. Ekspektasi yang tinggi itu sebetulnya yang jadi masalah. Ketika kenyataanya di bawah ekspektasi, maka akan kecewa.

Di semua aspek kehidupan memang kita selalu bergulat dengan ekspektasi dan kenyataan. Kekecewaan, kemarahan selalu muncul setelah kenyataan tidak sesuai ekspektasi.

Lantas bagaimana cara mengatasinya? Ya sederhana saja. Turunkan ekspektasinya. Pasti nggak akan kecewa. Kalau ekspektasi sudah rendah, kemudian kenyataannya malah bagus, justru itu akan meningkatkan kebahagiaan.

Hal ini saya alami tahun lalu. Ekspektasi saya turunkan. Saya open mind saja mendatangi setiap panggung yang pemainnya belum saya kenal. Beberapa di antaranya malah tampil di atas ekspektasi saya. Saya pun senang sekali dengan kejutan ini.

Saya sendiri tetap mendukung JJF ini. Salah satu festival jazz terbesar di dunia yang konsisten hadir tiap tahun sejak 2005. Menjaga konsistensi ini tidak mudah lho. Saya acung jempol kepada Pak Pieter Gontha, penggagasnya dan penerusnya saat ini, Dewi Gontha.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s