Indonesiaku

Pilkada dan Akidah

Seorang teman curhat karena dipertanyakan akidahnya oleh keluarganya lantaran mendukung Ahok. 

Saya tidak berani mengomentarinya karena apa pun komentarnya di ranah politik ini selalu salah menurut pihak yang tidak sepaham dengan kita.

Pilihan satu-satunya dan yang paling aman adalah tidak berkomentar dan mengamati saja.

Amati pihak-pihak yang saling berlawanan itu dan mencoba mencernanya. Dengan mudah akan ditemukan argumen-argumen lucu dan inkonsistensi. Namanya juga politik. Hari ini merah, besok bisa hijau dan sebaliknya.

Hari ini teman besok bisa jadi musuh dan sebaliknya. Yang besar bisa jadi kecil dan yang kecil jadi besar. Yang nyata di depan mata tidak kelihatan namun yang khayalan bisa dianggap nyata.

Dan semua itu ada alasan dan pembenarannya sendiri-sendiri. Tergantung kapan dan untuk kepentingan apa alasan itu digunakan.
Dalam hal ini saya memilih untuk menjadi pemerhati saja. Paling tidak ini jadi latihan untuk menahan diri. Saya menahan diri untuk tidak berkomentar yang di kemudian hari akan saya sesali.

Standar