Kategori: Mindset

The Power of Thinking. Just Thinking, Not Doing

The Power of Thinking. Saya sudah sering mendengar istilah ini. Cuma belum ‘ngeh’ benar sampai suatu ketika saya mengikuti pelatihan Mind Management tahun 2002 lalu. Di pelatihan itu saya diajari bahwa kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan hanya dengan memikirkannnya saya. O ya?

Adalah Pak RB Sentanu yang membawa ilmu ini dan mengembangkannya di Indonesia. Pelatihan itu sendiri banyak mempraktekkan teknik meditasi visual didukung oleh audio. Tapi yang menarik sekaligus kontroversial menurut saya adalah, dia mengatakan bahwa kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan hanya dengan memikirkannya saja, tanpa usaha. Doing-less. What an idea!

Sebagai seorang yang selalu tertarik dengan ide-ide baru, apalagi yang berguna untuk pertumbuhan bisnis dan pribadi, saya pun mencoba mempraktekkannya. Dan alhamdulillah berhasil! Ternyata, tanpa saya sadari, saya telah mempraktekkan ilmu ini di masa lalu tanpa disengaja.

Berikut ini adalah beberapa cerita hasil dari mempraktekkan ilmu ini secara sengaja maupun tidak sengaja:
Waktu masih berdagang di Tanah Abang, saya dan istri ingin sekali dapat supplier dari salah satu produk dijual saat itu. Produk tersebut selama ini didapat dari tangan ketiga dengan harga mahal. Saya selalu memikirkan bagaimana caranya supaya dapat produk ini dari tangan pertama. Produk ini sendiri didistribusikan secara tertutup kepada jaringan tertentu yang sulit ditembus. Saya tidak tahu di mana sumbernya.

Suatu hari, datanglah seorang perempuan etnis Cina berusia setengah baya dengan bahasa Cina mendatangi toko saya. Dibantu oleh seorang penterjemah, dia menawarkan produk yang selama ini saya cari. Kaget dan setengah tidak percaya, saya minta dia mengulangi penawarannya. Ternyata benar. Dia membuat produk itu di Cina dan membawanya langsung ke Indonesia. Harganya? Setengah dari harga yang saya dapatkan selama ini. Singkat cerita saya ambil produknya. Penasaran, saya bertanya bagaimana dia bisa sampai di toko kami dan hanya menawarkan ke toko saya saja. Dia menjawab, begitu turun dari kendaraan umum langsung berjalan ke arah toko saya tanpa menoleh ke toko lainnya. Saya hampir tidak percaya, tapi ini adalah kenyataan. Saya hanya memikirkannya saja. Tiba-tiba, subhanallah, yang saya pikirkan selama ini datang begitu saja di hadapan saya.

Cerita kedua. Masih berhubungan dengan produk yang kami jual. Ada satu produk busana muslim yang ingin saya jual di toko. Tapi produk tersebut dipegang secara eksklusif oleh satu toko di Tanah Abang, sebut saja toko A. Kepada pemilik toko tersebut, kami menyatakan keinginan untuk menjadi mitra dalam mendistribusikan produk tersebut. Tapi ditolak. Mungkin, karena takut produk tersebut tidak eksklusif lagi.

Singkat cerita, suatu hari seorang lelaki mendatangi toko kami menawarkan produk persis seperti yang kami inginkan. Kembali kami terbelalak tak percaya. Ceritanya, dia ternyata adalah supplier dari toko A tersebut. Kebetulan saat itu dia baru saja putus hubungan dengan toko A. Oleh toko A dia diijinkan untuk menawarkan produk tersebut ke toko mana saja di Tanah Abang. Akhirnya si supplier ini berjalan berkeliling sampai menemukan toko saya. Waktu saya tanya, kenapa anda memutuskan menawarkan ke toko saya, bukan ke toko lain. Dia menjawab bahwa dia saat itu sedang bingung dan putus asa. Dia berjalan saja mengikuti arah matahari dan akhirnya berhenti di depan toko saya. Subhanallah.

Cerita ketiga. Waktu bisnis saya sedang mengalami kemunduran tahun 2003 lalu, sebagaimana saya ceritakan sebelumnya. Uang tidak ada. Yang ada uang tertanam di sewa toko selama 2 tahun di depan. Penjualan lewat internet sudah mulai dilakukan dan sedikit-sedikit mulai menghasilkan. Saya berkata kepada istri, bagaimana seandainya jika kita keluar dari Tanah Abang dan mulai bisnis di rumah saja. Istri setuju. Tapi, kendalanya sewa toko yang sudah dibayarkan dan tidak mungkin dikembalikan.

Tidak lama setelah itu datanglah seorang petugas dari PD Pasar Jaya. Dia memberikan surat perintah agar kami keluar dari toko tersebut karena keberadaan toko tersebut dalam sengketa antara PD Pasar Jaya dengan pihak yang menyewakan, dalam hal ini Koperasi Pedagang Pasar Tanah Abang (KOPPAS). Kami diberi waktu 4 hari untuk mengosongkan isi toko dan bila tidak dilakukan, mereka tidak bertanggung jawab bila terjadi sesuatu terhadap isi toko. Kami terancam! Saya lapor kepada KOPPAS. Saran KOPPAS, sebaiknya dituruti saja. Nanti sisa uang saya akan dikembalikan, karena toko tersebut baru terpakai 11 bulan dari masa sewa yang 2 tahun. Aha! Ini semacam blessing in disguise. Saya memang sedang mencari-cari alasan untuk mengembalikan toko tersebut. Alhamdulillah, alasan tersebut didatangkan begitu saja oleh Tuhan dan menjadi jalan keluar bagi bisnis saya yang sedang sekarat. Sampai sekarang saya masih tidak percaya dengan kejadian ini.

Masih banyak lagi sebenarnya cerita mengenai The Power of Thinking ini yang saya alami, seperti bagaimana saya memikirkan mendapatkan penghasilan setahun dalam sebulan, bagaimana bekerja dari rumah saja dengan hasil yang tidak kalah dengan di toko, bagaimana bekerja sedikit alias malas tapi hasil banyak. Semua itu terwujud dari keberanian saya memikirkan sesuatu yang saya inginkan. Itu saja. Dan saya tidak peduli bagaimana caranya. Itu kuasa Tuhan. Saya yakin Dia akan tunjukkan jalannya kepada saya. Saya percaya saja.

Supaya tidak salah kaprah dan menimbulkan kontroversi, tulisan saya tidak bermaksud untuk mempromosikan suatu ide yang mendewakan pikiran. Bukan sama sekali. Menurut saya pikiran itu adalah doa. Tuhan sangat terlibat dalam proses ini. Seratus persen!

Buku rujukan: Piece of Mind oleh Sandy MacGregor, Gramedia.