Kategori: Minimalism

Favorit Saya di 2019

Agak telat saya menuliskan ini karena masih dalam suasana liburan. Biasanya sebelum akhir tahun sudah saya posting.

Ini dia daftar hal-hal yang saya sukai selama 2019. Tentu saja ini sangat subyektif. Pemilahan kategorinya pun tergantung selera saya, hehe.

Buku favorit: kali ini saya bagi dua, fiksi dan non-fiksi. Untuk fiksi, pilihan saya jatuh kepada tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Saya termasuk telat membacanya, itu pun sudah kepepet karena filmya sudah mau tayang. Terpaksa saya kebut dan menyesal karena baru sempat. Akhirnya keasyikan. Sampai saat ini sudah hampir menamatkan buku ketiga, Jejak Langkah. Membaca tetralogi ini jadi paham banyak soal pergulatan pemikiran dan pergerakan di masa pra kemerdekaan.

Untuk buku non-fiksi, saya memilih buku- bukunya Nassim Nicholas Taleb, seperti Black Swan, Antifragile dan Skin In The Game. Buku-bukunya menarik, karena membahas tema kekinian, soal perubahan yang cepat, chaos, risiko di balik peristiwa random. Sesungguhya saya belum menamatkan buku-buku itu karena tebal dan berat dicerna. Saya juga “terpaksa” membacanya karena setiap membaca buku lain, nama Taleb selalu dikutip. Berarti tokoh ini penting.

Film favorit: setelah diingat-ingat ternyata tahun 2019 saya tidak pernah menonton film bagus untuk diapresiasi. Saya ke bioskop hanya menemani anak-anak menonton film seri Marvel. Kalau pun ada film yang menonjol, saya menontonnya di Netflix, seperti The Irishman dan Marriage Story. Secara kualitas, The Irishman harusnya jadi pilihan, cuma saya kurang suka film kekerasan. Jadi tahun 2019 tidak ada fim favorit.

Grup musik favorit: Go Go Penguin dari Manchester Inggris. Saya mengenal grup ini lantaran mau manggung di Java Jazz. Sebagian grup yang akan tampil ternyata tidak saya kenal. Mau tidak mau harus berusaha mengakrabinya lewat Youtube dan Apple Music sebelum nonton konsernya. Dan ketemulah mutiara yang bersinar ini.

Makanan favorit: secara spesifik tidak ada, karena sepanjang 2019 saya belajar memasak masakan sederhana di rumah. Sederhana itu maksudnya, bahannya sederhana, prosesnya mudah, bumbunya minimalis dan sehat. Pilihan saya rata-rata masakan Jepang, Itali atau China yang berbasis rebusan atau digoreng dengan minyak zaitun, contohnya Suki, Spaghetti Aglio Olio, Ayam Goreng Asam Manis.

Aplikasi favorit: Blinkist. Ini adalah aplikasi summary buku, berbasis teks dan audio. Saya sering mendengarkannya sambil jalan kaki pagi hari. Lumayan, sambil olah raga tetap belajar. Kalau bukunya bagus, baru dibeli versi aslinya di Kindle.

Tokoh favorit: Naval Ravikant. Dia adalah seorang angel investor ternama di balik Uber dan sebagainya. Bedanya, selain sebagai investor, ia juga seorang pemikir, levelnya sudah seperti filsuf. Sayang dia tidak menulis buku. Namun pemikirannya banyak tersebar dan menjadi viral di Twitter dan Podcast.

Politikus favorit: Jokowi dan Prabowo. Kedua tokoh ini berhasil membuktikan yang tidak mungkin itu menjadi mungkin. Mereka bisa bertindak out of the box, di luar perkiraan khalayak. Mereka berhasil menekan egonya masing-masing untuk kepentingan yang lebih besar.

Ide favorit: Zen Mindfulness. Tentang Zen sebetulnya sudah lama saya ketahui. Mulai dari gaya hidup minimalis, simplicity, awalnya dari sini. Termasuk Steve Jobs mendapatkan ide disain produk-produk Apple yang minimalis dan elegan setelah mengenal Zen. Lebih jauh dari itu, konsep Zen ternyata bisa diaplikasikan ke dalam aktivitas sehari-hari seperti: berjalan kaki, mencuci, memasak, melukis, makan dan sebagainya. Intinya adalah konsentrasi. Saat makan ya makan, jangan sambil melakukan yang lain. Saat mencuci ya pikirannya fokus mencuci saja, jangan memikirkan hal lain setelahnya atau sebelumnya. Being present, being in the moment. Itu intinya.

Transportasi favorit: KRL Commuterline alias kereta api. Pertengahan 2019 saya dan keluarga pindah tempat tinggal di seputaran Serpong. Alhasil, untuk ke Jakarta harus menggunakan kereta karena saya memang berusaha mengurangi penggunaan mobil pribadi. Satu hal mengenai KRL, ketepatan waktunya bisa diandalkan, lebih murah dan tidak terkena macet.

Tempat wisata favorit: di rumah dan lingkungan. Bukan berarti tidak suka lagi traveling, tapi saya ingin mencoba untuk mendapatkan suasana senang saat berlibur itu “di sini”, di dekat sini, tanpa harus ke mana-mana. Sensasi rasa senang dari liburan itu kan yang sebenarnya dicari. Rasa rileks, cozy, keluar dari rutinias, sebenarnya itu bisa didapatkan tanpa harus pergi jauh-jauh. Inspirasi ini saya dapatkan setelah membaca bukunya Gretchen Rubin, Happier at Home, dan Hygge karya Meik Wiking. Survei di Denmark, ternyata mayoritas sumber kebahagiaan warganya adalah di dalam rumah, bukan saat liburan atau outdoor.

Olah raga favorit: masih jalan kaki. Sebagai variasi saya selingi dengan renang dan bersepeda. Sempat coba nge-gym untuk melatih kekuatan, tapi belum konsisten.