Kategori: Society

Fenomena Will Smith dan Ade Armando

Dua minggu terakhir perhatian peminat film dunia semua tertuju kepada Will Smith. Ia mendapatkan piala Oscar pertama kali melalui aktingnya yang menawan (sekaligus menyebalkan) sebagai Richard Williams, seorang ayah yang mengorbitkan Venus dan Serena Williams dalam film King Richard. Saya yang mengikuti karirnya sejak bermain dalam komedi situasi Fresh Prince on The Bell Air tentu saja senang dengan pencapaian ini.

Namun itu semua menjadi buyar setelah Will Smith menampar presenter Chris Rock yang melontarkan joke menyinggung istrinya, Jada Pinket. Buyar semua perhatian terhadap perhelatan Oscar yang megah itu. Termasuk CODA sebagai film terbaik pun tenggelam. Padahal ini adalah film istimewa. Saya menontonnya sampai dua kali. Apa istimewanya? Film ini mengangkat perjuangan sebuah keluarga kelompok minoritas difabel tuna rungu. Selain itu, ini adalah film produksi Apple TV+ yang baru memulai debut dalam bisnis video streaming. Pencapaian yang belum pernah dinikmati oleh Netfilx, pendahulunya

Publik di sini pun tak kurang heboh dengan peristiwa yang kurang lebih sama terjadi. Ade Armando, dosen UI dan aktivis media sosial dikeroyok oleh sekelompok orang saat menghadiri demo mahasiswa di depan gedung DPR. Ini semua seharusnya tidak terjadi. Aksi mahasiswa yang sejatinya berjalan dengan elegan dan disambut dengan bersahabat oleh wakil DPR dan Kapolri, dirusak oleh segelintir orang yang emosional dan tidak bertanggung jawab. Akibatnya, semua media dan perhatian publik luput perhatiannya terhadap tuntutan mahasiswa, tenggelam oleh riuhnya pemberitaan tentang pengeroyokan Ade Armando ini.

Nasi sudah menjadi bubur. Kini, Will Smith harus membayar sikap emosional tak terkendalinya itu dengan larangan hadir selama 10 tahun di semua acara yang dibuat oleh organisasi Academy Awards. Sebuah harga yang terlalu mahal harus dibayarnya. Karirnya pun terancam menjadi suram setelah ini.

Demikian juga dengan riuh rendahnya aksi mahasiswa BEM SI dengan berbagai tagar gagah di Twitter itu akhirnya menjadi tak terdengar setelah publik lebih tersedot perhatiannya kepada pengeroyokan Ade Armando.