Belajar dari Pensil

Terbangun dari tidur waktu dini hari itu tantangannya adalah untuk tertidur kembali. Syaratnya adalah tidak over thinking. Saya baca-baca, memang pada saat malam hari orang cenderung over thinking dibandingkan siang hari. Salah satu cara saya mengatasinya adalah dengan membaca. Biasanya dengan dosis 20 sampai 30 menit pikiran kembali fokus dan mengantuk lagi.

Tadi malam saya terbangun dan kebetulan buku yang saya buka adalah kumpulan esai Paulo Coelho berjudul Like The Flowing River. Buku ini sudah tamat saya baca dan kali ini adalah pengulangan. Dan memang banyak tulisan berharga yang terlupakan. Seperti esai berjudul The Story of the Pencil.

Menurut Coelho, pensil itu punya 5 kualitas:

  1. Untuk menulis ia perlu digerakkan oleh tangan. Hidup kita digerakkan oleh tangan tak terlihat, yaitu tangan Tuhan. Jangan lupa bahwa setiap gerak langkah kita agar selalu dalam bimbingan Tuhan.
  2. Pensil butuh rautan (sharpener) untuk mempertajam tulisan. Saat diraut, pensil akan merasakan sakit. Hidup pun demikian, perlu diraut dan merasakan sakitnya agar hidup lebih baik.
  3. Pensil selalu memiliki penghapus di ujungnya. Artinya, dalam hidup kita boleh melakukan kesalahan-kesalahan, asal sadar dan memperbaikinya,
  4. Yang paling utama dari pensil bukanlah kayu pembungkus di luarnya, tapi grafit untuk menulis di dalamnya. Ini mengingatkan untuk selalu memperhatikan kondisi internal diri kita ketimbang kulit bagian luarnya saja.
  5. Pensil selalu meninggalkan “tanda.” Hidup harus meninggalkan “tanda” di alam semesta.