Books and Learning, Creativity, Parenting

Kesamaan Antara Sergey Brin, Larry Page, Jeff Bezos, Jimmy Wales dan Marissa Mayer

Menyambut hari pertama mulai sekolah, sekali-sekali menulis tentang pendidikan.

Semua pasti tahu ya, Sergey Brin dan Larry Page adalah duo pendiri Google, Jeff Bezos adalah pendiri Amazon.com, Jimmy Wales adalah pendiri Wikipedia dan Marissa Mayer adalah mantan CEO Yahoo!.

Selain mereka adalah orang-orang sukses dan mendominasi dunia digital saat ini, tidak ada kesamaan di antara mereka kecuali satu hal, mereka adalah alumni dari Sekolah Montessori, bahkan digelari Mafia Montessori.

“Anda tidak akan bisa mengerti Google kecuali anda tahu bahwa Larry dan Sergey keduanya adalah anak-anak Montessori”, demikian kata Marissa Mayer yang pernah menjadi eksekutif top di Google.

Mengapa alumni Montessori begitu istimewa dan unggul?

“Karena di sana otak mereka didorong untuk selalu bertanya dan bertanya, mengapa begini, kenapa harus begitu? Begitulah otak mereka diprogram sejak dini,” lanjut Marissa Mayer.

Prinpsip dasar di sekolah itu menekankan untuk pembiaran murid-murid untuk mengekspolasi segala sesuatu, belajar mandiri dan mengerjakan proyek-proyek pribadi yang sesuai minat mereka daripada melakukan ujian tertulis. 

Pertanyaan mendasar saat ini adalah untuk apa anak-anak sekolah? Jawaban standar pastilah untuk mempersiapkan mereka agar produktif dan unggul di jamannya nanti.

Jawaban ini memunculkan pertanyaan lain yang lebih mendasar; persiapan seperti apa yang dibutuhkan agar mereka mampu memenuhi tuntutan jaman saat itu dan unggul?

Belajar dari kasus Montessori di atas, dapat disimpulkan bahwa anak-anak didorong untuk menjadi pembelajar mandiri (self-learner), kreatif dan berdaya (resourceful), yang mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan jaman yang konstan.

Pertanyaan berikutnya, apakah anak-anak harus diajarkan untuk mengingat fakta-fakta yang dengan mudah bisa didapatkan di Google, atau lebih didorong untuk lebih banyak bertanya dan mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan?

Studi terakhir menemukan bahwa anak-anak di atas usia 5 tahun akan menurun jumlah pertanyaan yang diajukannya sampai usia remaja. Kenapa? Mungkin karena pengaruh lingkungan di rumah dan di sekolah. 

Di rumah, anak yang banyak bertanya dianggap mengganggu orang tuanya bahkan dilabel sebagai ngeyel. Di sekolah, dengan beban dan target pelajaran yang ada, ruang untuk murid bertanya bisa berkurang. Ada juga tekanan sosial yang menganggap banyak bertanya itu adalah bodoh dan berbuat kesalahan adalah memalukan.

Padahal, orang-orang seperti Sergey Brin cs di atas otaknya diprogram sejak dini untuk selalu bertanya dan mengeksplorasi segala kemungkinan, termasuk kemungkinan berbuat salah.

Education is the kindling a flame, not the filling a vessel – Socrates.

Standar