Life, Minimalism, Simplicity

Setelah Seminggu Smartphone Detox

Alhamdulillah, akhirnya kelar juga eksperimen mengurangi penggunaan smartphone sampai hanya 30 menit sehari selama seminggu lalu. Saya lulus dengan memuaskan. Hehe.

Mau tahu bagaimana rasanya? Atau nggak peduli :). Anyway, walau pun gak peduli, saya akan tetap cerita, karena ini berarti, minimal buat saya pribadi.

Cerita dan pengalamannya kurang lebih sama dengan yang saya sharing minggu lalu (tepat tiga hari eksperimen). Saya menemukan kesadaran bahwa hanya 20% dari waktu yang dihabiskan di smartphone itu benar-benar penting. Sisanya yang 80% adalah aktivitas tidak penting penghabis waktu saja.

Pertanyaannya, kenapa waktu yang 80% tidak penting itu membuat kita ketagihan? Karena ada hormon domapine yang dihasilkan dari situ, kesenangan yang adiktif. Contohnya, jumlah like dan komentar di media sosial itu membuat kita senang dan mengulanginya terus-menerus. Ini seperti permen pada anak-anak, membuat ketagihan.

Permen atau kesenangan itu perlu dan baik-baik saja selagi dalam batas wajar. Kalau berlebihan, bisa diabet juga. Demikian juga dengan ketagihan dengan komentar atau like di media sosial, jika dalam batas wajar itu positif, karena kita jadi terkoneksi dengan teman-teman.

Pagi ini yang saya rasakan adalah hasil eksperimen itu sudah mulai jadi kebiasaan baru (habit). Saya jadi mulai terbiasa mematikan HP setelah mengecek dan membalas isinya yang dianggap penting. Kemudian saya hidupkan lagi setiap 3-5 jam sekali. Namun, karena ini terlalu ekstrim, sekarang saya setting menjadi lebih moderat.

Apakah eksperimen ini akan saya teruskan? Rasanya iya, mungkin seminggu dalam sebulan perlu dilakukan. Alasannya, karena efek yang dihasilkan membuat saya merasa lebih ringan, lebih punya “space” untuk hal-hal lain yang dianggap lebih penting dan produktif seperti ibadah tepat waktu, olah raga, membaca buku, melukis, menulis, waktu berkualitas dengan keluarga atau teman, berpikir (ya, berpikir dengan waktu khusus untuk hal-hal yang penting dan strategis dalam hidup).

Iklan
Standar