Tag: #djokovic #novakdjokovic #nadal #federer #dominicthiem

Kesalahan Novak Djokovic

Akhir bulan lalu perhatian peminat tenis tertuju kepada perhelatan bergengsi Australian Open 2020. Sejak awal sampai perempat final muncullah nama-nama 3 besar penguasa tenis dunia, Rafael Nadal, Roger Federer dan Novak Djokovic. Muncul juga nama-nama pemain muda calon bintang seperti Dominic Thiem yang berhasil menantang Djokovic di final.

Perjalanan Thiem, petenis dari Austria ini sungguh mengesankan, terutama saat dia mengempaskan peringkat pertama dunia, Rafael Nadal di perempat final dan Alexander Zverev di semifinal. Djokovic sendiri lolos ke final setelah memadamkan perjuangan Federer dengan cukup mudah.

Saat final terasa betul bahwa yang berhadapan adalah bukan pemain sembarangan. Thiem adalah petenis muda peringkat 5 yang tangguh dan menjanjikan. Sementara Djokovic adalah pemegang kursi elit 3 besar dunia dalam waktu yang panjang. Mental dan pengalaman juara sudah diakrabinya sejak lama. Terbukti dengan set pertama dimenanginya dengan cukup mudah.

Saya pun merasa lega, jagoan saya akan melenggang mudah. Namun, di set kedua Thiem berhasil membalik keadaan menjadi 1-1. Bahkan di set ketiga, Djokovic berhasil dikuncinya dengan 1-2. Wah, ini boleh juga, Thiem, batin saya. Djokovic baru ketemu lawannya.

Saya yakin dengan mental dan pengalaman panjangnya, Djokovic akan bisa mengatasi anak muda yang memang hebat dan tangguh ini. Di babak keempat, Djokovic akhirnya bangkit dari tekanan dengan reli-reli yang mendebarkan berhasil menyamakan kedudukan 2-2.

Babak kelima, penentuan ternyata tidak juga mudah. Sampai-sampai saya menjanjikan hadiah makan gelato buat anak-anak jika Djokovic menang. Hasil akhirnya dimenangkan Djokovic 3-2 dengan perjuangan berat. Mental juara dan pengalamannya akhirnya jadi bukti.

Saya menyebutnya mental dan pengalaman juara, sebuah istilah yang umum. Apa sebetulnya yang spesifik soal ini? Saya perhatikan, setiap pemenang dalam pertandingan tenis bukanlah seorang yang paling jago servisnya atau punya pukulan mematikan, meski itu tetap menentukan. Tapi ada hal lain yang selalu muncul di layar, yaitu statistik kesalahan sendiri. Seorang pemenang biasanya membuat kesalahan lebih sedikit dibanding lawannya.

Dalam pertandingan ini, keunggulan Djokovic sebetulnya karena ia melakukan lebih sedikit kesalahan dibandingkan lawannya. Terutama saat sudah di atas angin, mental juaranya berbicara. Thiem terlihat emosional yang kemudian membuatnya melakukan kesalahan berulang. Beda sekali dengan saat ia memenangi babak 2 dan 3.

Saya kira hal ini juga berlaku di dalam bidang olah raga lain. Sepak bola misalnya. Tim yang jarang membuat kesalahan, biasanya menang. Di satu pertandingan, tim A daya serangnya tidak hebat, tapi sangat disiplin dalam bertahan dan penguasaan bola. Tim B lawannya lama-lama jadi kesal dan emosi. Mulai melalukan kesalahan dan pelanggaran dan akibatnya fatal, tendangan penalti.

Mental dan pengalaman juara Djokovic adalah buah dari perjalanan dan konsistensi yang panjang, yang tidak mudah diikuti oleh pemain lain, kecuali Nadal dan Federer tentunya. Ia konsisten untuk menyempurnakan servisnya, pengembalian bola dan tentu saja membuahkan jumlah kesalahan yang lebih sedikit daripada lawan-lawannya.

Kemenangan Djokovic dan pembelajaran berharga ini sepadan dengan hadiah 2 mangkuk gelato untuk anak-anak.