Books and Learning, Indonesiaku

Masalah di Balik Ujian Akademis

Hari ini Ujian Nasional bagi adik-adik SMU. Saya ucapkan selamat ujian semoga sukses. Namun, ujian ini bukanlah penentu realitas kehidupanmu di masa depan. Masih banyak variabel lain yang menentukan.

Di Twitter sedang berlangsung kampanye menolak UN yang katanya menyeragamkan potensi anak-anak yang berbeda dengan variabel ujian akademik saja. Saya termasuk yang setuju dengan ini.

Teringat beberapa tahun lalu kemenakan saya yang tidak diterima di SMP Negeri favoritnya lantaran nilai ujiannya tidak mencukupi. Akhirnya, ia pun “terlempar” ke sekolah kelas dua yang jauh jaraknya dari rumah dan berisi siswa-siswi kelas dua juga atau kasarnya “bodoh” menurut ukuran ujian itu.

Selama setahun ia bersekolah di sana dan suatu hari dapat info bahwa ia bisa masuk ke sekolah favorit itu setelah satu tahun dan jika ada kursi yang tersedia.

Kesabarannya akhirnya terbayar dan ia pun diterima di sekolah impiannya itu.

Biarlah ia masuk sekolah itu meski pun pastinya ia akan tergolong siswi yang paling “bodoh” di antara ratusan siswa di sekolah itu, demikian batin saya.

Apa yang terjadi? Dugaan saya meleset. Bukannya menjadi siswi yang terbodoh, ia malah bisa membuktikan menjadi rangking 7 dan merangkak naik ke rangking 4 di kelasnya. Ia justru jadi siswi berprestasi di kelasnya di sekolah yang tadinya tidak menerimanya lantaran nilainya tidak mencukupi.

Ini ada yang aneh.

Logika saya, mestinya prestasinya konsisten dengan prestasi nilai ujiannya yang jeblok itu. Yang terjadi justru kebalikannya. Apa yang salah di sini? Apakah ujian akademis itu tidak valid? Apa yang terjadi ketika dia ujian? Apakah dia tidak siap? Apakah dia sakit ketika ujian?

Justru di sinilah lubang kesalahan dari sistim ujian akademik nasional itu. Siswa dinilai dari satu aspek akademis saja, hasil ujian saja, tanpa mempertimbangkan aspek-aspek lain? Bagaimana dengan potensinya yang lain? Bagaimana dengan kondisi psikologisnya? Bagaimana dengan nilai dari usahanya?

Seorang teman yang punya anak berbakat dengan IQ di atas 135 pernah bercerita bahwa anaknya itu anti ujian. Begitu ada ujian dia pasti grogi dan tidak bisa menjawab soal. Jika konsisten memakai sistim penilaian ujian, anak ini tidak lulus dan dianggap bodoh. Padahal dia anak jenius. Apa yang salah?

Saya teringat anekdot kartun yang menggambarkan ujian binatang di hutan. Para binatang yang terdiri dari gajah, harimau, ikan, monyet, burung, ular, jerapah semuanya diuji dengan satu cara, yaitu memanjat pohon. Bisa disimpulkan, binatang apa yang akan lulus dan tidak. Kira-kira seperti itulah sistim penilaian ujian akademis itu. Hanya dari satu aspek saja. Semua distandarisasi.

So, masihkah ujian akademis itu dijadikan satu-satunya cara menentukan kapasitas siswa atau perlu cara lain?

Standar