Berapa Nilai Keahlian Anda?

2010 Februari 10
oleh roniyuzirman

Waktu hamil Vino, anak kedua kami, istri saya pernah mengeluh punggungnya sakit-sakit nggak karuan. “Sakitnya laen deh, bukan sakit biasa”, katanya kepada saya.

Saya tidak mau ambil risiko. “Ayo kita ke dokter aja”, ajak saya.

Sesampai di dokter kandungan, istri saya menyampaikan keluhannya dan dokter ahli yang sudah sepuh ini pun menyimak dengan baik sambil sekali-sekali melontarkan gurauan khasnya.

“Tidak apa-apa kok bu. Tenang aja”, ujarnya sambil kemudian menuliskan resep.

Setelah selesai, kami pun menuju kasir dan membayar biaya konsultasi dokter sebesar Rp. 350 ribu. Setelah itu tujuan selanjutnya adalah menebus obat di apotik. Saya dan istri pun terkaget dengan harga obat yang disebutkan oleh kasir apotik itu. “Haaah… cuma seribu lima ratus?”

Ya, harga obatnya cuma Rp. 1.500, karena obatnya hanyalah koyo tempel Salonpas.

Masalahnya, untuk mendapat resep seharga seribu lima ratus kami harus keluar biaya tiga ratus lima puluh ribu.

Saya pun tersenyum simpul sambil teringat cerita tentang tukang kayu.

Seorang pria sedang pusing nyaris putus asa. Ia sedang berusaha menancapkan paku di dinding kayu untuk menggantung hiasan tapi selalu gagal. Setiap kali dicobanya, selalu gagal. Kegagalan itu meliputi: pukulan yang meleset, pukulan yang terlalu keras yang mengakibatkan paku terpelanting, pukulan yang miring yang mengakibatkan jarinya terpukul palu atau pukulan yang mengakibatkan pakunya menjadi layu.

Akhirnya ia memutuskan memanggil seorang tukang kayu.

Dalam beberapa kali pukulan tuntaslah sudah paku itu menancap dengan gagah dan mantap.

Ketika ditanya berapa tarifnya, ia pun menyebut Rp. 51.000. “Haaah….lima puluh satu ribu?” si pria terkaget dan minta penjelasan.

“Ya, lima puluh satu ribu. Yang seribu untuk jasa memukul palu, yang lima puluh ribu adalah untuk menentukan cara memukul yang tepat dan berapa tekanan pukulan yang pas”, jawabnya enteng.

Pengalaman itulah yang dibayar mahal. Ia telah melakukan percobaan puluhan ribu kali memukul untuk menentukan cara yang pas dalam keterampilan palu memalu ini.

Mungkin itu juga penjelasan logis bagi kasus istri saya ini. Dokter sepuh ini tentunya telah menghabiskan puluhan jam terbang untuk menentukan titik koordinat keputusannya meresepkan koyo tempel Salonpas itu. Coba seandainya saya bawa ke dokter yang belum pengalaman yang bisa saja memeriksa macam-macam sampai di rontgen segala. Bisa saja.

Pertanyaannya, kita semua pasti punya keahlian dan akumulasi jam terbang tertentu untuk mencapainya. Berapa kita dibayar untuk keahlian itu?

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Follow me on Twitter: @roniyuzirman

Segera Lahir, Adiknya Manet

2010 Februari 9
oleh roniyuzirman

Sudah lama saya tidak menulis tentang bisnis saya di blog ini. Keasyikan dengan topik lain, sepertinya.

Padahal, update tentang bisnis sendiri juga penting. Syukur-syukur ada pembaca yang “nyangkut” alias tertarik ingin berbisnis dengan saya :)

Rencananya, insya Allah awal April nanti saya akan meluncurkan sebuah brand baru. Anggap saja sebagai adiknya Manet lah.

Meski pun lahir dari “perut” yang sama, tentu adiknya ini akan berbeda dengan kakaknya. Jadi, tolong lupakan “kakaknya” ini karena adiknya nanti akan beda banget dengan kakaknya. Beda bentuknya, beda konsepnya, beda sistimnya dan tentu beda pula karakternya.

Kalau di dunia properti yang penting adalah: lokasi, lokasi dan lokasi. Nah di dunia bisnis yang penting adalah diferensiasi, diferensiasi dan diferensiasi.

Hanya satu yang sama, bahwa adiknya ini akan menggunakan prinsip-prinsip bisnis yang sama dengan kakaknya. Bagi yang sudah lama mengenal dan berhubungan dengan Manet, tentu sudah tahu seperti apa prinsi-prinsip bisnis yang kami jalankan. Prinsip-prinsip yang, alhamdulillah, telah mampu membawa Manet seperti sekarang yang terus bertumbuh dan sustainable.

Ide lahirnya brand baru ini adalah hasil diskusi saya dengan beberapa pakar di sebuah majalah bisnis beberapa waktu lalu. Menurutnya, tahun 2010 ini adalah saatnya bagi bisnis UKM untuk melakukan diversifikasi bisnis, tapi tidak jauh dari bisnis intinya. Saya mengikuti petuah itu saja.

Nah, apa nama brand-nya?

Seperti apa konsepnya?

Seperti apa sistim bisnisnya?

Itu masih saya rahasiakan.

Insya Allah, menjelang peluncuran nanti akan saya kabari melalui blog ini.

Tunggu tanggal mainnya.

Yang jelas, mungkin ini adalah peluang emas juga untuk anda.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Follow me on Twitter: @roniyuzirman

Sukses Tanpa Lulus Sekolah, Bisa Kok

2010 Februari 8
oleh roniyuzirman

Majalah Forbes menurunkan artikel tentang orang-orang sukses tanpa pendidikan formal seperti Simon Cowell, George Foreman, Carl Lindner, Gisele Bundchen dan Jay Z.

Mereka semua adalah para drop out sekolah, tapi sekarang sukses luar biasa. Apa rahasianya?

Forbes menulis, mereka sukses karena dirinya sendiri, bukan karena pendidikan atau jasa konsultan yang mengarahkannya.

Artikel ini sekali lagi membuktikan bahwa sukses tidak selalu berkorelasi dengan pendidikan.

Apa yang membuat orang tanpa pendidikan itu bisa sukses? Brad Burke, Direktur Rice University’s Rice Allience for Technology and Entrepreneurship mengatakan “mereka memiliki kemampuan untuk menelurkan ide-ide yang melebihi pengalaman dan realitas hidupnya.”

Yup, saya setuju. Mereka yang sukses itu – baik yang berpendidikan tinggi maupun tidak – adalah yang mampu bermimpi di luar realitasnya. Mereka tidak menjadikan kemiskinan, ketidakberdayaan, kegagalan, kekurangan fisik, kurangnya pendidikan menjadi alasan untuk tidak maju meraih impian.

Orang-orang yang gagal adalah mereka yang menyerah pada keadaan dan selalu mencari alasan kenapa mereka gagal atau tidak meraih impian.

Kekuatan mental seperti ini tidak melulu dimiliki oleh mereka yang sekolah. Saya mendapati banyak mereka yang sekolah tinggi dan pintar tapi mempunyai mental pecundang. Mereka menjadi penakut dan khawatir dengan ketidakpastian jika harus melangkahi jalan yang berisiko. Mereka sudah kalah sebelum bertanding.

Karir saya sudah mentok.

Sudah terlambat.

Saya memang ditakdirkan menjadi seperti ini.

Saya tidak cocok jadi pengusaha (statement ini kembali saya dengar kemarin).

Itu adalah alasan-alasan yang sering dikemukakan.

So, apa pun itu alasannya, adalah benar. Henry Ford pernah berkata, “Jika anda mengatakan bisa, anda benar. Jika anda mengatakan tidak bisa, anda pun benar.”

Kembali lagi, hidup ini adalah pilihan. Mau menjadi pemenang atau pecundang, silakan. Mau jadi bukti atau menjadi komentator, ya silakan. Yang penting, jalani pilihan itu dengan segala konsekuensinya dan jangan menyesali pilihan itu.

Salam FUUUNtastic!

Wassalam,

Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Follow me on Twitter: @roniyuzirman