Indonesiaku, Mindset, Motivasi

Jokowi, Siapa pun Bisa Jadi Presiden

Saya teringat, pernah 3 kali diundang oleh Presiden SBY. Pertama ke Istana Cipanas, kedua ke Istana Bogor dan terakhir saat peluncuran buku beliau, Selalu Ada Pilihan (saya termasuk 100 orang yang dapat buku bertanda tangan beliau lho).

Momen di Istana Cipanas adalah yang paling berkesan buat saya. Saat itu protokoler mengatur posisi duduk saya dekat dengan Pak SBY, Bu Ani, bersebelahan dengan Mas Agus Yudhoyono.

Sebelum acara dimulai, saya sempat bertanya ke Bu Ani, apakah pernah terpikir untuk tinggal di sini (maksudnya di Istana Cipanas).

Bu Ani menjawab, tidak pernah. Namun sebagai istri prajurit, beliau sering lewat istana itu dan membayangkan alangkah enaknya tinggal di istana seperti itu. Sekarang jadi kenyataan.

Pesan implisit dari jawaban beliau adalah, siapa pun bisa tinggal di istana alias jadi presiden.

Sekarang kita semua tahu, Jokowi adalah pemenang pilpres berdasarkan rekapitulasi KPU.

Pak Jokowi juga berasal dari kalangan rakyat biasa, seperti kita-kita, seperti saya. Anak seorang tukang kayu kabarnya. Sekolahnya pun biasa, teman-temannya pun biasa.

Tahun 2012 Komunitas TDA beruntung bisa menghadirkan beliau dari Solo di acara Pesta Wirausaha di Gedung Smesco. Semua berkat peran dari pengurus TDA Solo Raya.

Nama beliau ketika itu sedang diperbincangkan, karena gayanya, karena kesederhanaannya, juga karena isu yang lagi hangat ketika itu, mobil Esemka.

Figur-figur yang bergaya out of the box, yang genuine, memang lagi disukai di republik ini. Terlepas dari sebagaian orang menilai itu adalah pencitraan, nanti waktu yang akan membuktikannya.

Sebelum naik panggung, saya sempat berbincang dengan beliau dan meminta foto bareng di ruang tamu VIP menggunakan kamera BlackBerry (duh, saya lupa sekarang foto itu ada di mana :().

“Pak, minta foto ya, mumpung belum jadi gubernur”, pinta saya. Ketika itu namanya sudah mulai diwacanakan jadi kandidat gubernur DKI.

Pak Jokowi langsung berdiri sambil menjawab ,”Nggak ada potongan.” Mungkin maksudnya beliau tidak layak jadi gubernur saat itu. Kenyataannya, tak lama setelah itu DKI satu menjadi jabatannya.

Saat berbicara di Pesta Wirausaha, terus terang saya tidak banyak mengingat isinya, kecuali anekdot lucu soal ajudannya yang diganti karena lebih ganteng dari dirinya.

Setelah itu kita semua tahu, nama beliau terus menanjak makin populer dan dipuncaki dengan menjadi Presiden RI ke 7 dalam waktu tidak lama.

Dari kejadian-kejadian itu saya merasa “dekat” dengan kedua figur calon mantan presiden dan presiden RI masa depan itu.

Dari kedua pertemuan itu, saya menyimpulkan bahwa siapa saja bisa jadi presiden. Pak SBY dan Pak Jokowi yang bukan anak siapa-siapa, bukan anak yang lahir dari golongan elit atau istilah teman saya, tidak lahir “di atas piring emas”, bisa mencapai kedudukan tertinggi di negeri ini.

Kisah hidup seperti ini mestinya bisa ditangkap oleh seluruh anak negeri ini sebagai inspirasi, sebagai motivasi, bahwa apa pun bisa dicapai asalkan dipenuhi syarat-syaratnya. Semua bisa mendapat kesempatan yang sama di negeri yang sedang belajar berdemokrasi ini.

Mudah-mudahan dengan hadirnya kepemimpinan baru ini, akses seluruh anak bangsa ini semakin terbuka untuk mewujudkan apa pun mimpi dan keinginan mereka. Akan lahir banyak Jokowi-Jokowi baru atau orang-orang biasa dengan capaian luar biasa karena terbukanya kesempatan itu.

20140724-034758-13678774.jpg

Standar