Life

Bosan

Siang menjelang sore kemarin saya merasa bosan di rumah. Entah mengapa rasa bosan itu menyerang tanpa permisi.

Saya bingung mau ngapain. Mau ke luar rumah, malas. Main dengan anak-anak, sudah. Nonton TV, malas. Main gadget, bosan.

Saya memilih menyendiri di salah satu sudut rumah sambil membawa buku notes dan pena.

Saya mencorat-coret tanpa maksud dan tujuan dan dapatlah ide untuk menuliskan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dikerjakan saat ini.

Beberapa di antaranya:
– mendengarkan musik
– naik sepeda
– jalan kaki
– menulis (manual di buku tulis)
– menulis blog (sudah lama gak diupdate)
– menggambar di buku notes
– melukis di kanvas
– memotret
– menyapu halaman, kebetulan banyak daun berserakan
– membaca
– makan

Akhirnya saya memilih untuk menyapu halaman. Pilihan ini bisa langsung dikerjakan, membuat badan bergerak dan hasilnya pun langsung terlihat.

Pilihan ini berdampak langsung kepada istri saya. Melihat saya menyapu halaman, ia pun menarik selang untuk menyirami tanaman, meski saya ingatkan bahwa saat ini mendung dan sebentar lagi hujan. Tak apalah, mungkin ia pun bosan menonton TV siaran langsung kelahiran anak Anang dan Ashanty.

Anak-anak pun demikian. Tak mau kalah, mereka pun berlarian tak jelas apa tujuannya. Ada yang mengambil sapu, ada yang menendang-nendang bola.

Tiba-tiba Vito berlari memegangi buntut tokek yang telah mati. Ia mendapati tokek itu mau dimakan oleh Robin, kucing penghuni baru rumah kami. Ia diberi nama oleh Vito untuk mengenang Robin Williams yang begitu disukainya setelah menonton Jumanji.

Kebosanan sore itu tiba-tiba hilang lenyap begitu saja.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/b87/409959/files/2014/12/img_3272.jpg

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/b87/409959/files/2014/12/img_3280.jpg

Standar